"Biasanya pengujian sampel dilakukan setiap Sabtu dan Minggu. Setelah harga dan kualitas dinilai layak, mitra yang melakukan pemesanan," katanya.
Yusdhitiar mengungkapkan saat ini terdapat sekitar 54 supplier yang bekerja sama memenuhi kebutuhan dapur MBG Pananjung Dua. Kerja sama tersebut dilakukan berdasarkan kontrak dengan mempertimbangkan standar mutu produk. Ia juga membantah anggapan bahwa seluruh bahan baku berasal dari luar Pangandaran. Menurutnya, sebagian besar komoditas justru dipasok dari petani, peternak, dan nelayan lokal.
"Melon dari petani Pangandaran, ketimun dari Langkaplancar, pakis, kangkung, daun singkong juga dari wilayah sekitar. Ikan laut tentu dari Pangandaran karena melimpah. Udang dari tambak Karangtirta Batuhiu, ayam juga dari Kabupaten Pangandaran," ujarnya.
Namun untuk beberapa jenis sayuran yang tidak tersedia di Pangandaran, pasokan terpaksa didatangkan dari luar daerah. Saat ditanya mengenai keterlibatan mitra dalam pencarian dan penentuan supplier, Yusdhitiar mengaku berdasarkan aturan yang dipahaminya, pihaknya tidak diperbolehkan melakukan pengadaan bahan pangan.
"Yang kami pahami, kami sebagai petugas BGN atau ASN tidak diperbolehkan melakukan pengadaan bahan. Bahkan bukan hanya tidak diperbolehkan, tetapi memang dilarang terlibat dalam pengadaan bahan," tegasnya.
Dengan demikian, seluruh proses pengadaan kebutuhan dapur MBG dilakukan langsung oleh mitra yang telah bekerja sama, sementara SPPG berfokus pada pengawasan dan memastikan kualitas layanan serta bahan yang diterima sesuai standar yang telah ditetapkan.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
