get app
inews
Aa Text
Read Next : Diserbu Jelang Magrib! Saung Lesehan Agus Kucir Jadi Magnet Buka Puasa di Pangandaran

Tangis di Ujung Senja! Nenek 80 Tahun di Pangandaran Terusir Demi Pembangunan KDMP

Rabu, 04 Maret 2026 | 15:45 WIB
header img
Tangannya yang mulai gemetar tetap sigap mengangkat kursi kayu tua, tikar lusuh, hingga peralatan dapur sederhana. ( Foto: iNewsPangandaran.id)

“Kalau bisa digeser lah, kan tanah desa ini luas. Bukan hanya di sini saja,” katanya pelan.

Tanah desa di lokasi tersebut disebut-sebut memiliki luas lebih dari 100 bata. Sementara lahan yang akan dipakai untuk pembangunan gedung koperasi diperkirakan berukuran sekitar 30 x 20 meter.

Harapan agar lokasi digeser sedikit saja, tampaknya belum menemukan titik terang.

Di sudut rumah, Sapnan (52), anak Cani, tak kuasa menyembunyikan rasa kecewa. Ia memandang ibunya yang sudah renta dengan mata berkaca-kaca.

“Kasihan ibu saya sudah lansia, janda, tidak ada usaha. Untuk kebutuhan sehari-hari saja dibiayai anak,” tuturnya.

Sapnan mengungkapkan, selama menempati lahan desa, keluarganya tidak tinggal begitu saja tanpa kontribusi. Setiap tahun, mereka rutin membayar Rp70 ribu kepada pihak desa sebagai bentuk tanggung jawab.

“Bukan tidak mau mendukung program pemerintah. Tapi tolong juga lihat kondisi ibu saya,” tambahnya.

Di lokasi yang sama, Kepala Desa Ciparakan, Sarji, membenarkan bahwa persiapan lahan untuk pembangunan KDMP memang dijadwalkan dimulai hari itu. Sejumlah perangkat desa dan warga sudah berkumpul sejak pagi.

Namun suasana sempat diliputi keraguan.

Beberapa warga terlihat enggan memulai pembongkaran. Mereka saling pandang, seakan hati kecilnya menolak untuk menjadi orang pertama yang merobohkan rumah seorang nenek berusia 80 tahun.

Di tengah kebimbangan itu, beredar kabar adanya pihak ketiga yang meminta agar pembongkaran tidak dilakukan terlebih dahulu. Situasi pun sempat tertahan.

“Sebelumnya permasalahan dengan penghuni rumah sudah beres, sudah ada komitmen, sudah menyadari,” ujar Sarji.

Meski demikian, pemerintah desa berencana mengusulkan bantuan rumah tidak layak huni (rutilahu) bagi Cani setelah pembongkaran dilakukan.

Janji bantuan itu menjadi satu-satunya secercah harapan di tengah kepedihan.

Namun pagi itu, yang terlihat jelas hanyalah seorang nenek tua yang sibuk menyelamatkan kenangannya. Setiap papan yang akan dicabut bukan sekadar material bangunan, melainkan potongan kisah hidupnya.

Rumah itu mungkin berdiri di atas tanah desa. Tapi di sanalah tawa cucu pernah menggema, doa-doa dipanjatkan, dan kenangan bersama suami tercinta disimpan rapat.

Kini, ketika program pembangunan hendak berjalan, Cani harus kembali memulai dari nol di usia senja, saat tenaga tak lagi sekuat dulu.

Di antara kepentingan pembangunan dan air mata seorang lansia, warga Ciparakan hanya bisa menyaksikan. Sebagian berharap ada jalan tengah, sebagian lagi pasrah pada keputusan yang telah ditetapkan.

Pagi itu di Kalipucang, bukan hanya rumah yang bersiap roboh. Hati banyak orang pun ikut runtuh menyaksikan seorang nenek berusia 80 tahun mengemasi hidupnya, perlahan, tanpa banyak suara.

Editor : Irfan Ramdiansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut