get app
inews
Aa Text
Read Next : Diserbu Jelang Magrib! Saung Lesehan Agus Kucir Jadi Magnet Buka Puasa di Pangandaran

Tangis di Ujung Senja! Nenek 80 Tahun di Pangandaran Terusir Demi Pembangunan KDMP

Rabu, 04 Maret 2026 | 15:45 WIB
header img
Tangannya yang mulai gemetar tetap sigap mengangkat kursi kayu tua, tikar lusuh, hingga peralatan dapur sederhana. ( Foto: iNewsPangandaran.id)

PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Pagi itu, Rabu (4/3/2026), suasana di Dusun Ciparakan RT 3/1, Desa Ciparakan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, terasa berbeda. Di bawah langit yang masih teduh, seorang nenek renta bernama Cani (80) tampak mondar-mandir memindahkan barang-barang dari dalam rumahnya.

Tangannya yang mulai gemetar tetap sigap mengangkat kursi kayu tua, tikar lusuh, hingga peralatan dapur sederhana. Satu per satu perabot itu dikeluarkan dari rumah semi permanen berukuran sekitar 10 x 6 meter yang telah ia tempati selama 15 tahun terakhir.

Rumah yang menghadap langsung ke jalan kabupaten itu, tak lama lagi akan tinggal kenangan.

Di atas lahan tersebut, pemerintah berencana membangun Gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), program yang menjadi bagian dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

Bagi Cani, rumah itu bukan sekadar bangunan berdinding papan dan beratap seng. Di sanalah ia berteduh, memasak, berdoa, dan menghabiskan hari-harinya bersama seorang cucu sejak 2011 silam. Rumah itu dibangun dengan susah payah bersama almarhum suaminya, meski berdiri di atas tanah milik desa.

“Sudah lama, sejak tahun 2011 saya tinggal di sini,” ucap Cani lirih kepada wartawan di dapur sempit yang sebentar lagi akan diratakan.

Sorot matanya tampak kosong. Sesekali ia menghela napas panjang, seakan mencoba menenangkan gejolak di dalam dada.

Cani sebenarnya memiliki sebidang tanah pribadi. Namun lokasinya berada jauh dari jalan utama. Demi akses yang lebih mudah dan rasa aman, ia memilih membangun rumah di tanah desa yang dianggap lebih strategis.

Kini, keputusan itu berbuah getir.

Sebelum rencana pembongkaran, Cani mengaku sudah beberapa kali bertemu dengan pihak pemerintah desa. Namun menurutnya, tidak ada opsi lain yang ditawarkan selain merobohkan bangunan yang telah menjadi saksi hidupnya selama satu setengah dekade.

“Kalau bisa digeser lah, kan tanah desa ini luas. Bukan hanya di sini saja,” katanya pelan.

Tanah desa di lokasi tersebut disebut-sebut memiliki luas lebih dari 100 bata. Sementara lahan yang akan dipakai untuk pembangunan gedung koperasi diperkirakan berukuran sekitar 30 x 20 meter.

Harapan agar lokasi digeser sedikit saja, tampaknya belum menemukan titik terang.

Di sudut rumah, Sapnan (52), anak Cani, tak kuasa menyembunyikan rasa kecewa. Ia memandang ibunya yang sudah renta dengan mata berkaca-kaca.

“Kasihan ibu saya sudah lansia, janda, tidak ada usaha. Untuk kebutuhan sehari-hari saja dibiayai anak,” tuturnya.

Sapnan mengungkapkan, selama menempati lahan desa, keluarganya tidak tinggal begitu saja tanpa kontribusi. Setiap tahun, mereka rutin membayar Rp70 ribu kepada pihak desa sebagai bentuk tanggung jawab.

“Bukan tidak mau mendukung program pemerintah. Tapi tolong juga lihat kondisi ibu saya,” tambahnya.

Di lokasi yang sama, Kepala Desa Ciparakan, Sarji, membenarkan bahwa persiapan lahan untuk pembangunan KDMP memang dijadwalkan dimulai hari itu. Sejumlah perangkat desa dan warga sudah berkumpul sejak pagi.

Namun suasana sempat diliputi keraguan.

Beberapa warga terlihat enggan memulai pembongkaran. Mereka saling pandang, seakan hati kecilnya menolak untuk menjadi orang pertama yang merobohkan rumah seorang nenek berusia 80 tahun.

Di tengah kebimbangan itu, beredar kabar adanya pihak ketiga yang meminta agar pembongkaran tidak dilakukan terlebih dahulu. Situasi pun sempat tertahan.

“Sebelumnya permasalahan dengan penghuni rumah sudah beres, sudah ada komitmen, sudah menyadari,” ujar Sarji.

Meski demikian, pemerintah desa berencana mengusulkan bantuan rumah tidak layak huni (rutilahu) bagi Cani setelah pembongkaran dilakukan.

Janji bantuan itu menjadi satu-satunya secercah harapan di tengah kepedihan.

Namun pagi itu, yang terlihat jelas hanyalah seorang nenek tua yang sibuk menyelamatkan kenangannya. Setiap papan yang akan dicabut bukan sekadar material bangunan, melainkan potongan kisah hidupnya.

Rumah itu mungkin berdiri di atas tanah desa. Tapi di sanalah tawa cucu pernah menggema, doa-doa dipanjatkan, dan kenangan bersama suami tercinta disimpan rapat.

Kini, ketika program pembangunan hendak berjalan, Cani harus kembali memulai dari nol di usia senja, saat tenaga tak lagi sekuat dulu.

Di antara kepentingan pembangunan dan air mata seorang lansia, warga Ciparakan hanya bisa menyaksikan. Sebagian berharap ada jalan tengah, sebagian lagi pasrah pada keputusan yang telah ditetapkan.

Pagi itu di Kalipucang, bukan hanya rumah yang bersiap roboh. Hati banyak orang pun ikut runtuh menyaksikan seorang nenek berusia 80 tahun mengemasi hidupnya, perlahan, tanpa banyak suara.

Editor : Irfan Ramdiansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut