“Ramadan menjadi momentum mengingat asal-usul. Kita diingatkan bahwa hidup ini sementara,” katanya.
Ia juga menyinggung tradisi sahur keliling dan bedug yang ditabuh menjelang imsak. Bedug, menurutnya, bukan hanya alat penanda waktu salat, tetapi simbol komunikasi komunal warisan leluhur. Sebelum pengeras suara dikenal, bunyi bedug adalah bahasa kolektif masyarakat.
“Leluhur kita membangun kebersamaan lewat bunyi, lewat simbol, lewat ritual. Ramadan memperkuat itu,” paparnya.
Namun Erik mengingatkan, modernisasi perlahan menggerus pemahaman generasi muda terhadap akar budaya tersebut. Banyak yang menjalankan tradisi tanpa mengetahui maknanya. Bahkan sebagian menganggapnya sekadar rutinitas tahunan.
“Kalau makna leluhur ini hilang, Ramadan hanya tinggal seremoni. Padahal di dalamnya ada filosofi mendalam tentang keseimbangan hidup,” tegasnya.
Menurut Erik, leluhur Nusantara memandang puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan amarah, keserakahan, dan hawa nafsu. Konsep ini sejalan dengan ajaran Islam tentang pengendalian diri.
Ia menambahkan, budaya gotong royong yang menguat saat Ramadan juga merupakan warisan lama. Tradisi berbagi makanan, santunan kepada yang membutuhkan, hingga buka bersama di kampung-kampung mencerminkan nilai kebersamaan yang sudah hidup jauh sebelum era modern.
“Ramadan adalah titik temu antara agama dan adat. Ia memperkuat identitas kolektif kita sebagai bangsa yang religius sekaligus berbudaya,” ungkapnya.
Di Pangandaran dan wilayah Priangan pada umumnya, suasana Ramadan masih terasa kental dengan nuansa kampung. Anak-anak berlarian membawa obor saat malam takbiran, ibu-ibu menyiapkan hidangan khas, dan para orang tua bercerita tentang Ramadan di masa lalu.
Bagi Erik, kisah-kisah itu bukan nostalgia kosong. Itu adalah proses transmisi nilai. Leluhur tidak hanya mewariskan tradisi, tetapi juga etika hidup.
“Ramadan seharusnya menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Kita beribadah dengan kesadaran modern, tapi tetap berpijak pada akar budaya,” ujarnya.
Di akhir paparannya, Erik mengajak masyarakat untuk kembali membaca Ramadan sebagai ruang pembelajaran lintas generasi. Ia menekankan, menghormati leluhur bukan berarti terjebak pada masa lalu, melainkan menjaga nilai baik agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Ramadan memang datang setiap tahun. Namun bagi mereka yang memahami jejak leluhur di dalamnya, bulan suci ini bukan sekadar ritual. Ia adalah warisan hidup yang terus berdenyut dalam nadi budaya Nusantara.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
