Budayawan Erik Krisnayuda Kupas Jejak Tradisi yang Tak Pernah Mati

Irfan ramdiansyah
Dr. Erik Krisnayuda, Budayawan. ( Foto: ist)

PANGANDARAN, pangandaran.inews.id - Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Di tangan para leluhur Nusantara, ia menjelma menjadi ruang budaya, ruang tafakur, sekaligus ruang pertemuan antara nilai agama dan warisan adat. Itulah yang ditegaskan budayawan Dr. Erik Krisnayuda saat mengupas Ramadan dari sudut pandang budaya dan leluhur.

Menurutnya, ketika Islam datang ke Nusantara, ia tidak serta-merta menghapus tradisi lama. Justru terjadi dialog panjang antara ajaran agama dan kearifan lokal. 

“Ramadan di Indonesia adalah hasil pertemuan sejarah. Ada jejak leluhur di dalamnya,” ujarnya.

Erik menjelaskan, banyak tradisi Ramadan yang sebenarnya berakar pada budaya penghormatan terhadap siklus waktu dan alam. Leluhur Nusantara mengenal laku prihatin, tirakat, dan puasa sebagai cara membersihkan diri secara lahir dan batin. 

Ketika Islam hadir, praktik itu menemukan bentuk baru dalam ibadah shaum.

“Nilai dasarnya sama, pengendalian diri, penyucian jiwa, dan penghormatan terhadap kekuatan yang lebih tinggi. Inilah yang membuat Ramadan mudah diterima di berbagai lapisan masyarakat,” jelasnya.

Di tanah Sunda misalnya, tradisi munggahan sebelum Ramadan menjadi simbol penyucian diri dan saling memaafkan. Tradisi ini bukan sekadar makan bersama, tetapi bentuk penghormatan kepada leluhur yang mengajarkan pentingnya harmoni sosial.

Begitu pula dengan ziarah kubur menjelang puasa. Erik menilai, ini bukan praktik tanpa makna. Dalam perspektif budaya, ziarah adalah cara masyarakat menjaga hubungan spiritual dengan pendahulu mereka. 

“Ramadan menjadi momentum mengingat asal-usul. Kita diingatkan bahwa hidup ini sementara,” katanya.

Ia juga menyinggung tradisi sahur keliling dan bedug yang ditabuh menjelang imsak. Bedug, menurutnya, bukan hanya alat penanda waktu salat, tetapi simbol komunikasi komunal warisan leluhur. Sebelum pengeras suara dikenal, bunyi bedug adalah bahasa kolektif masyarakat.

“Leluhur kita membangun kebersamaan lewat bunyi, lewat simbol, lewat ritual. Ramadan memperkuat itu,” paparnya.

Namun Erik mengingatkan, modernisasi perlahan menggerus pemahaman generasi muda terhadap akar budaya tersebut. Banyak yang menjalankan tradisi tanpa mengetahui maknanya. Bahkan sebagian menganggapnya sekadar rutinitas tahunan.

“Kalau makna leluhur ini hilang, Ramadan hanya tinggal seremoni. Padahal di dalamnya ada filosofi mendalam tentang keseimbangan hidup,” tegasnya.

Menurut Erik, leluhur Nusantara memandang puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan amarah, keserakahan, dan hawa nafsu. Konsep ini sejalan dengan ajaran Islam tentang pengendalian diri.

Ia menambahkan, budaya gotong royong yang menguat saat Ramadan juga merupakan warisan lama. Tradisi berbagi makanan, santunan kepada yang membutuhkan, hingga buka bersama di kampung-kampung mencerminkan nilai kebersamaan yang sudah hidup jauh sebelum era modern.

“Ramadan adalah titik temu antara agama dan adat. Ia memperkuat identitas kolektif kita sebagai bangsa yang religius sekaligus berbudaya,” ungkapnya.

Di Pangandaran dan wilayah Priangan pada umumnya, suasana Ramadan masih terasa kental dengan nuansa kampung. Anak-anak berlarian membawa obor saat malam takbiran, ibu-ibu menyiapkan hidangan khas, dan para orang tua bercerita tentang Ramadan di masa lalu.

Bagi Erik, kisah-kisah itu bukan nostalgia kosong. Itu adalah proses transmisi nilai. Leluhur tidak hanya mewariskan tradisi, tetapi juga etika hidup.

“Ramadan seharusnya menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Kita beribadah dengan kesadaran modern, tapi tetap berpijak pada akar budaya,” ujarnya.

Di akhir paparannya, Erik mengajak masyarakat untuk kembali membaca Ramadan sebagai ruang pembelajaran lintas generasi. Ia menekankan, menghormati leluhur bukan berarti terjebak pada masa lalu, melainkan menjaga nilai baik agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Ramadan memang datang setiap tahun. Namun bagi mereka yang memahami jejak leluhur di dalamnya, bulan suci ini bukan sekadar ritual. Ia adalah warisan hidup yang terus berdenyut dalam nadi budaya Nusantara.

Editor : Irfan Ramdiansyah

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network