PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Tradisi membangunkan sahur kembali menuai sorotan. Sejumlah remaja di beberapa titik wilayah Pangandaran memilih cara instan dengan menggeber knalpot brong di tengah malam. Bukannya menuai apresiasi, aksi tersebut justru memantik keluhan warga yang merasa terganggu waktu istirahatnya.
Suara bising yang memecah kesunyian dini hari itu dinilai bukan lagi sekadar tradisi, melainkan sudah masuk kategori meresahkan. Apalagi, Ramadan sejatinya identik dengan ketenangan, kekhusyukan, dan pengendalian diri.
Menanggapi fenomena tersebut, Pimpinan Pondok Pesantren Riyadussalikin, KH Luthfi Fauzi, menyampaikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa membangunkan sahur merupakan amalan baik dan bagian dari syiar Islam. Namun, menurutnya, cara yang digunakan tetap harus menjunjung adab dan tidak menimbulkan mudarat bagi orang lain.
“Membangunkan sahur itu ibadah. Tapi kalau caranya dengan kebisingan, ugal-ugalan di jalan, apalagi membahayakan, itu bukan lagi kebaikan. Ramadan mengajarkan ketenangan dan akhlak,” tegas KH Luthfi.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
