Para pelaku usaha mengaku, karakter wisatawan Pantai Pangandaran kebanyakan ingin serba praktis. Parkir dekat, turun, beli makanan atau cenderamata, lalu lanjut menikmati pantai. Ketika akses dibuat lebih jauh, mereka khawatir minat belanja ikut tergerus.
“Pemerintah jangan cuma bicara soal macet dan pungli. Kami ini rakyat kecil. Sehari tak laku, dapur bisa tak ngebul,” ujar pedagang lainnya, disambut anggukan rekan-rekannya.
Mereka menilai kebijakan tersebut terlalu fokus pada aspek lalu lintas tanpa mempertimbangkan dampak ekonomi mikro. Pedagang kaki lima, penyewa tikar, penjual kelapa muda hingga pemilik warung makan kecil merasa menjadi pihak pertama yang terkena imbas.
Tak sedikit yang terang-terangan meminta agar sistem parkir dikaji ulang. Bila tetap dipusatkan, mereka mendesak adanya solusi konkret, seperti penyediaan shuttle, akses pejalan kaki yang nyaman, atau rekayasa jalur yang tetap memungkinkan wisatawan melintas di depan area perdagangan.
“Kalau mau ditata, silakan. Tapi pikirkan juga akses pembeli ke tempat kami. Jangan sampai kami yang jadi korban,” kata salah satu perwakilan warga saat dialog berlangsung.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
