Saat Bedug Jadi Alarm Senja, Ngabuburit Tempo Dulu di Pangandaran yang Tak Tergantikan
PANGANDARAN, pangandaran.iNews.id - Jauh sebelum istilah “nongkrong sore” dikenal luas, warga kampung di Pangandaran sudah punya cara khas menunggu azan magrib. Bukan di keramaian, bukan pula dalam gemerlap hiburan, melainkan di surau kecil, halaman masjid, dan tepian pantai yang masih sunyi. Ngabuburit kala itu sederhana, tapi justru di situlah letak kenangannya.
Setiap Ramadan tiba, suara anak-anak mengaji menggema sejak sore. Selepas asar, mereka berbondong-bondong menuju musala membawa iqra atau Al-Qur’an yang dibungkus sarung. Tak ada yang memaksa, namun rasa malu jika tak ikut tadarus menjadi “alarm” paling ampuh.
“Dulu mah kalau Ramadan, sore itu ya ngaji. Habis itu baru main sebentar nunggu bedug,” kenang Ujang (56), warga Cikembulan.
Ngabuburit zaman dulu tak bisa dipisahkan dari surau. Di situlah anak-anak belajar tajwid, remaja memperdalam tadarus, sementara orang tua berbincang ringan soal kehidupan kampung. Semuanya terasa alami.
Editor : Irfan Ramdiansyah