get app
inews
Aa Text
Read Next : Run Race Ramadhan Pangandaran 2026 Segera Digelar, Adu Cepat 100 Meter Berhadiah Jutaan

Saat Bedug Jadi Alarm Senja, Ngabuburit Tempo Dulu di Pangandaran yang Tak Tergantikan

Minggu, 22 Februari 2026 | 14:49 WIB
header img
Ilustrasi, ngabuburit jaman dulu yang tak terlupakan. (Foto: AI)

PANGANDARAN, pangandaran.iNews.id - Jauh sebelum istilah “nongkrong sore” dikenal luas, warga kampung di Pangandaran sudah punya cara khas menunggu azan magrib. Bukan di keramaian, bukan pula dalam gemerlap hiburan, melainkan di surau kecil, halaman masjid, dan tepian pantai yang masih sunyi. Ngabuburit kala itu sederhana, tapi justru di situlah letak kenangannya.

Setiap Ramadan tiba, suara anak-anak mengaji menggema sejak sore. Selepas asar, mereka berbondong-bondong menuju musala membawa iqra atau Al-Qur’an yang dibungkus sarung. Tak ada yang memaksa, namun rasa malu jika tak ikut tadarus menjadi “alarm” paling ampuh.

“Dulu mah kalau Ramadan, sore itu ya ngaji. Habis itu baru main sebentar nunggu bedug,” kenang Ujang (56), warga Cikembulan.

Ngabuburit zaman dulu tak bisa dipisahkan dari surau. Di situlah anak-anak belajar tajwid, remaja memperdalam tadarus, sementara orang tua berbincang ringan soal kehidupan kampung. Semuanya terasa alami.

Bedug menjadi penanda paling ditunggu. Begitu ditabuh, suara menggema ke seluruh penjuru kampung. Anak-anak yang tadinya bermain gobak sodor atau petak umpet langsung berhamburan pulang.

Tidak ada pengeras suara canggih. Tidak ada hitungan mundur digital. Hanya suara bedug dan azan yang membuat suasana terasa sakral.

Bagi warga pesisir, ngabuburit juga dilakukan dengan duduk di tepi pantai. Hamparan pasir masih lengang. Angin laut berembus pelan, sementara matahari perlahan turun di ufuk barat.

Beberapa nelayan muda membantu orang tua merapikan jaring atau membersihkan perahu sebelum berbuka. Aktivitas itu bukan beban, melainkan bagian dari kebersamaan Ramadan.

“Pantai dulu sepi. Kalau duduk sore itu rasanya dekat sekali sama alam,” ujar Darsa (62), warga Sidamulih.

Menu berbuka pun tak seramai sekarang. Kolak pisang, bubur sumsum, gorengan hangat, atau sekadar teh manis sudah cukup menghapus dahaga seharian.

Belum ada deretan pedagang takjil seperti sekarang. Hampir semua disiapkan di dapur rumah masing-masing. Bahkan ada yang berbuka hanya dengan air putih dan kurma, lalu salat magrib berjamaah sebelum makan besar.

Yang paling terasa adalah kebersamaan. Satu nampan gorengan bisa disantap ramai-ramai. Tak ada gengsi, tak ada perbandingan.

Seiring perkembangan zaman, wajah ngabuburit di Pangandaran ikut berubah. Keramaian makin terasa, aktivitas semakin beragam. Namun bagi generasi lama, suasana Ramadan tempo dulu tetap punya tempat tersendiri di hati.

“Sekarang lebih ramai, tapi dulu lebih khusyuk,” ucap Ujang pelan.

Ngabuburit zaman dulu mungkin tak terdokumentasi kamera, tapi ia hidup dalam ingatan. Di setiap suara bedug yang masih sesekali ditabuh, di setiap cerita orang tua kepada cucunya, dan di setiap senja yang jatuh di langit Pangandaran kenangan itu tak pernah benar-benar hilang.

Editor : Irfan Ramdiansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut