Ngabuburit Ala Bah Rangga, Seniman Sunda Ini Sindir Generasi Nongkrong Tanpa Makna
PANGANDARAN, pangandaran.inews.id - Ngabuburit bagi sebagian orang mungkin hanya soal menunggu azan magrib sambil nongkrong dan berburu takjil. Tapi di mata seniman Sunda, Bah Rangga, ngabuburit bukan sekadar buang waktu jelang berbuka. Ada nilai, ada rasa, bahkan ada ruh budaya yang kini mulai terkikis.
Ditemui di sela aktivitasnya, Bah Rangga berbicara lugas. Sorot matanya tajam ketika membahas perubahan tradisi ngabuburit di tanah Pasundan, khususnya di Pangandaran.
“Dulu ngabuburit itu ada seninya, ada adabnya. Anak-anak muda ngumpul bukan cuma ketawa-ketiwi, tapi ada yang ngaji, ada yang latihan degung, ada yang belajar kawih Sunda,” ujarnya pelan namun penuh penekanan.
Menurut Bah Rangga, zaman dulu suasana sore Ramadan terasa lebih syahdu. Anak-anak berlarian di lapang sambil membawa bedug kecil, remaja putra membantu bersih-bersih masjid, sementara para orang tua duduk di bale-bale bambu sambil bertukar cerita.
Ia menyebut, ngabuburit adalah ruang pertemuan antara budaya dan spiritualitas.
Editor : Irfan Ramdiansyah