Saat Bedug Jadi Alarm Senja, Ngabuburit Tempo Dulu di Pangandaran yang Tak Tergantikan
Bedug menjadi penanda paling ditunggu. Begitu ditabuh, suara menggema ke seluruh penjuru kampung. Anak-anak yang tadinya bermain gobak sodor atau petak umpet langsung berhamburan pulang.
Tidak ada pengeras suara canggih. Tidak ada hitungan mundur digital. Hanya suara bedug dan azan yang membuat suasana terasa sakral.
Bagi warga pesisir, ngabuburit juga dilakukan dengan duduk di tepi pantai. Hamparan pasir masih lengang. Angin laut berembus pelan, sementara matahari perlahan turun di ufuk barat.
Beberapa nelayan muda membantu orang tua merapikan jaring atau membersihkan perahu sebelum berbuka. Aktivitas itu bukan beban, melainkan bagian dari kebersamaan Ramadan.
“Pantai dulu sepi. Kalau duduk sore itu rasanya dekat sekali sama alam,” ujar Darsa (62), warga Sidamulih.
Menu berbuka pun tak seramai sekarang. Kolak pisang, bubur sumsum, gorengan hangat, atau sekadar teh manis sudah cukup menghapus dahaga seharian.
Belum ada deretan pedagang takjil seperti sekarang. Hampir semua disiapkan di dapur rumah masing-masing. Bahkan ada yang berbuka hanya dengan air putih dan kurma, lalu salat magrib berjamaah sebelum makan besar.
Yang paling terasa adalah kebersamaan. Satu nampan gorengan bisa disantap ramai-ramai. Tak ada gengsi, tak ada perbandingan.
Seiring perkembangan zaman, wajah ngabuburit di Pangandaran ikut berubah. Keramaian makin terasa, aktivitas semakin beragam. Namun bagi generasi lama, suasana Ramadan tempo dulu tetap punya tempat tersendiri di hati.
“Sekarang lebih ramai, tapi dulu lebih khusyuk,” ucap Ujang pelan.
Ngabuburit zaman dulu mungkin tak terdokumentasi kamera, tapi ia hidup dalam ingatan. Di setiap suara bedug yang masih sesekali ditabuh, di setiap cerita orang tua kepada cucunya, dan di setiap senja yang jatuh di langit Pangandaran kenangan itu tak pernah benar-benar hilang.
Editor : Irfan Ramdiansyah