“Semua punya kualitas, tapi penilaian juri melihat secara menyeluruh. Dari wawasan, attitude, sampai kemampuan komunikasi,” ujarnya.
Di balik gemerlap panggung, proses panjang yang dilalui peserta juga jadi penentu. Mulai dari tes tulis, wawancara, hingga karantina, semuanya menjadi ajang “adu isi kepala”, bukan sekadar adu penampilan.
Ketua Paguyuban Mojang Jajaka Pangandaran, Panji Arum, menegaskan tidak ada intervensi dalam penilaian. Semua murni berdasarkan akumulasi nilai.
“Hasil ini mutlak. Semua sudah melalui proses panjang dan penilaian objektif,” katanya.
Dominasi Parigi juga makin terasa dengan masuknya perwakilan mereka di kategori lain. Ini jadi sinyal kuat bahwa kecamatan tersebut tengah melahirkan generasi muda yang siap bersaing di level lebih tinggi.
Kini, sorotan tak lagi soal kemenangan semata. Publik menanti pembuktian Selsea dan Taufiq di tingkat Jawa Barat. Mampukah mereka mempertahankan “taji” saat berhadapan dengan duta dari 27 kabupaten/kota?
Bupati Pangandaran, Citra, memberi pesan tegas: gelar bukan akhir, tapi awal tanggung jawab besar.
“Mereka harus jadi contoh nyata di masyarakat, bukan hanya tampil di panggung,” ujarnya.
Dengan kemenangan ini, Selsea dan Taufiq bukan hanya membawa pulang mahkota, tapi juga ekspektasi besar. Panggung sudah ditaklukkan, kini saatnya membuktikan diri di dunia nyata.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
