Dulu Sederhana, Rasanya Nendang! Takjil Tempo Doeloe Pangandaran Bikin Kangen Kampung Halaman
Anak-anak dulu sering menyelipkan sale di saku baju koko, menunggu waktu berbuka sambil bermain di lapang.
Kerupuk & Sambal Terasi: Takjil Pedas Anti Mainstream
Kalau daerah lain identik dengan kolak atau es buah, warga Pangandaran tempo dulu justru tak sungkan berbuka dengan yang pedas-segar. Kerupuk kuning atau kerupuk melarat jadi andalan.
Yang bikin beda? Cocolannya. Sambal terasi khas Pangandaran punya aroma laut yang kuat. Terasi lokal yang masih segar ditumbuk bersama cabai rawit, bawang, dan sedikit perasan jeruk. Begitu dicocol kerupuk, suara kriuk berpadu dengan sensasi pedas yang langsung “nendang”.
Bagi orang luar mungkin terdengar aneh masa buka puasa pakai sambal? Tapi bagi warga pesisir, itulah selera. Pedasnya justru membangkitkan nafsu makan sebelum menyantap nasi hangat.
Tradisi ini banyak ditemui di wilayah Pananjung hingga Parigi. Sederhana, tapi penuh karakter.
Bubur Sumsum & Candil di Pincuk Daun Pisang
Menjelang magrib, pasar kaget di sekitar Pananjung atau Parigi dulu selalu ramai. Penjual bubur sumsum dan bubur candil duduk bersila, dikelilingi panci besar yang mengepul.
Tak ada mangkuk plastik. Bubur disajikan di atas pincuk daun pisang. Aroma daun bercampur uap santan hangat menciptakan sensasi tersendiri.
Siraman gula kawung gula aren asli hasil sadapan pohon kelapa lokal memberi rasa manis yang dalam, tidak bikin enek, apalagi serak di tenggorokan. Candil kenyal berpadu dengan sumsum lembut, lumer di mulut.
Harga? Dulu cuma recehan. Tapi nilai kenangannya hari ini tak ternilai.
Es Kelapa Muda: Murni Tanpa Sirup
Sebelum tren minuman warna-warni menjamur, takjil paling dicari adalah es kelapa muda langsung dari pohon. Degan dipetik dari kebun atau pinggir pantai, dibelah saat itu juga. Airnya murni, segar alami. Kadang hanya ditambah sedikit gula merah cair. Tanpa sirup botolan, tanpa topping aneh-aneh.
Sensasi dinginnya menyapu haus, apalagi setelah seharian beraktivitas di bawah terik matahari pesisir. Daging kelapanya lembut, disendok langsung dari batoknya.
Itulah kemewahan sederhana Ramadan tempo dulu.
Takjil tempo doeloe Pangandaran bukan cuma soal rasa. Ia adalah cerita tentang kebersamaan, tentang anak-anak yang menunggu bedug dengan sabar, tentang ibu-ibu yang memasak tanpa pamrih, dan tentang kampung yang masih akrab satu sama lain.
Kini, zaman berubah. Takjil makin variatif, kemasan makin menarik, pilihan makin banyak. Tapi bagi sebagian warga lama, rasa galendo hangat, sale lidah asli jemuran pantai, hingga sambal terasi pedas menyengat tetap punya tempat di hati.
Ramadan boleh modern, tapi kenangan tak pernah basi. Dan di Pangandaran, takjil tempo doeloe selalu punya cerita yang bikin rindu.
Editor : Irfan Ramdiansyah