“Kami hanya ingin meminta penjelasan. Tidak ada niat buruk atau berprasangka kepada pihak desa. Karena ini spontan, kami juga tidak memiliki agenda audiensi. Kalau nantinya ada audiensi, tentu kami akan menempuh aturan yang berlaku,” katanya.
Namun, kedatangan warga belum berujung pada pertemuan langsung dengan kepala desa. Meski demikian, persoalan tidak berhenti di depan pintu kantor desa. Justru, ada satu simbol yang kemudian menjadi sorotan.
Dalam aksi tersebut, warga membawa simbol pocong. Sekilas tampak seperti bagian dari kemeriahan karnaval kemerdekaan. Namun ternyata, simbol tersebut sengaja digunakan sebagai sindiran keras terhadap persoalan tanah dan makam yang menjadi keresahan warga.
Indra menjelaskan, pocong itu menggambarkan keresahan warga mengenai nasib makam para leluhur yang selama ini berada di kawasan tersebut.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
