“Sudah lama, sejak tahun 2011 saya tinggal di sini,” ucap Cani lirih kepada wartawan di dapur sempit yang sebentar lagi akan diratakan.
Sorot matanya tampak kosong. Sesekali ia menghela napas panjang, seakan mencoba menenangkan gejolak di dalam dada.
Cani sebenarnya memiliki sebidang tanah pribadi. Namun lokasinya berada jauh dari jalan utama. Demi akses yang lebih mudah dan rasa aman, ia memilih membangun rumah di tanah desa yang dianggap lebih strategis.
Kini, keputusan itu berbuah getir.
Sebelum rencana pembongkaran, Cani mengaku sudah beberapa kali bertemu dengan pihak pemerintah desa. Namun menurutnya, tidak ada opsi lain yang ditawarkan selain merobohkan bangunan yang telah menjadi saksi hidupnya selama satu setengah dekade.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
