PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Suasana berbeda terlihat di wilayah Cintaratu, Kabupaten Pangandaran. Sejak pagi, puluhan keranjang berisi paket Program Makan Bergizi (MBG) tertata rapi sebelum disalurkan kepada para penerima manfaat. Di tengah bulan suci Ramadan, pembagian MBG kali ini terasa lebih bermakna.
Satu per satu paket berisi biskuit bergizi, telur, buah apel, serta makanan tambahan lainnya dipersiapkan dengan cermat. Meski terlihat sederhana, bantuan tersebut menjadi penopang penting bagi anak-anak yang tetap menjalankan aktivitas belajar sambil berpuasa.
Petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cintaratu tampak sigap memastikan setiap isi paket sesuai standar. Komposisi protein, karbohidrat, hingga vitamin diperhitungkan agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi meski pola makan anak berubah selama Ramadhan.
PIC SPPG Cintaratu dari Yayasan Pengembangan Sumber Daya Manusia Surya Nusantara, Sunengsih, S.Pd, menegaskan bahwa kualitas paket menjadi perhatian utama.
“Kami memastikan isi paket tetap sesuai standar gizi. Anak-anak tetap membutuhkan asupan yang cukup agar kuat berpuasa, tetap fokus belajar, dan tumbuh optimal,” ujarnya kepada wartawan.
Distribusi MBG selama Ramadan memang dilakukan dengan penyesuaian. Pola konsumsi yang berubah tidak boleh berdampak pada kecukupan nutrisi penerima manfaat. Menu disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan energi serta daya tahan tubuh anak selama menjalankan ibadah puasa.
Namun di tengah pelaksanaan program, jagat media sosial dan sejumlah grup WhatsApp di Kabupaten Pangandaran belakangan diramaikan berbagai keluhan terkait menu MBG di beberapa wilayah. Ada yang mempertanyakan variasi menu, ada pula yang menyoroti kualitas sajian.
Saat dikonfirmasi terkait hal tersebut, ia memilih tidak menanggapi lebih jauh isu yang berkembang di luar wilayahnya. Fokus utama, menurutnya, adalah memastikan distribusi di Cintaratu berjalan sesuai standar dan ketentuan yang berlaku.
“Kami fokus menjalankan tugas sesuai prosedur dan memastikan anak-anak penerima manfaat di wilayah kami mendapatkan asupan yang layak,” ujar Sunengsih singkat.
Terlepas dari dinamika yang berkembang, program ini tetap berjalan. Di balik telur yang dikemas rapi, ada peternak lokal yang hasil ternaknya terserap rutin. Di balik buah dan bahan makanan lain, ada pedagang kecil yang merasakan peningkatan omzet.
Sejumlah pelaku usaha di sekitar Cintaratu mengaku terbantu dengan adanya permintaan bahan baku untuk MBG. Permintaan yang stabil membuat pendapatan mereka lebih terjaga, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu pasti.
Program ini pun dinilai menjadi penggerak ekonomi mikro di sekitar wilayah distribusi. Bahan baku yang diprioritaskan dari pelaku usaha lokal membuat perputaran uang tetap berada di lingkungan masyarakat setempat.
“MBG bukan sekadar membagikan makanan. Ada rantai ekonomi yang ikut bergerak,” tambahnya.
Di Cintaratu, Ramadan tahun ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Di balik paket sederhana yang dibagikan, tersimpan upaya menjaga gizi generasi muda sekaligus menghidupkan harapan pelaku usaha kecil. Sementara berbagai isu beredar di luar sana, distribusi MBG di Cintaratu tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
