PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Ada yang berbeda di lingkungan RSUD Pandega Pangandaran. Sejumlah pejabat dan jajaran manajemen dari RSUD Bedas Pacira tampak hilir mudik menyusuri lorong rumah sakit. Bukan tanpa alasan. Kedatangan mereka dalam agenda serius bertajuk kaji tiru yang disebut-sebut sebagai langkah “bongkar dapur” sistem pelayanan kesehatan.
Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Di balik suasana formal yang penuh senyum, tersimpan misi besar, meningkatkan mutu layanan medis dan memperkuat manajemen rumah sakit di tengah tuntutan masyarakat yang makin kritis terhadap pelayanan kesehatan.
Agenda dimulai dengan pemaparan dari pihak tuan rumah. Manajemen RSUD Pandega membeberkan sistem operasional, pola manajemen, hingga standar pelayanan yang selama ini diterapkan. Mulai dari alur pasien masuk, sistem administrasi, hingga pengelolaan layanan penunjang medis dikupas tuntas.
Suasana diskusi berlangsung hangat namun serius. Kedua belah pihak saling bertukar pengalaman, termasuk membedah berbagai tantangan klasik rumah sakit daerah: antrean pasien, keterbatasan sumber daya manusia, hingga adaptasi teknologi kesehatan.
“Setiap kunjungan adalah cerita dan setiap diskusi adalah pembelajaran. Sinergi seperti ini penting agar pelayanan kepada masyarakat terus meningkat,” ujar salah satu perwakilan manajemen RSUD Pandega.
Tak hanya mendengar paparan, rombongan RSUD Bedas Pacira juga aktif melempar pertanyaan tajam. Mereka ingin mengetahui bagaimana inovasi diterapkan secara nyata, bukan sekadar konsep di atas kertas.
Usai sesi diskusi, rombongan diajak berkeliling dalam agenda hospital tour. Di sinilah praktik di lapangan benar-benar diuji. Delegasi melihat langsung bagaimana alur pelayanan pasien berjalan, mulai dari pendaftaran hingga tindakan medis.
Beberapa unit layanan strategis turut ditinjukkan. Penggunaan sistem digital, tata kelola ruang pelayanan, hingga pengaturan alur pasien menjadi perhatian khusus. Rombongan terlihat mencatat dan mendokumentasikan sejumlah hal yang dinilai bisa diadaptasi di tempat mereka.
Kegiatan ini menjadi momentum penting. Pasalnya, kaji tiru bukan hanya soal meniru, melainkan menyaring dan menyesuaikan inovasi agar relevan dengan kebutuhan daerah masing-masing.
Di tengah sorotan publik terhadap kualitas pelayanan kesehatan, langkah kaji tiru dinilai sebagai strategi konkret. Rumah sakit daerah kini dituntut tak hanya melayani, tetapi juga berinovasi dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Kunjungan tersebut ditutup dengan pertukaran cinderamata sebagai simbol persahabatan dan komitmen kerja sama. Namun lebih dari itu, kedua pihak sepakat menjaga komunikasi agar hasil diskusi tidak berhenti di ruang pertemuan.
RSUD Pandega menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan RSUD Bedas Pacira. Sementara pihak tamu berharap pengalaman yang didapat bisa segera diterapkan untuk meningkatkan kualitas layanan di wilayahnya.
Pada akhirnya, muara dari seluruh agenda ini adalah masyarakat. Peningkatan mutu layanan, efisiensi sistem, dan inovasi teknologi diharapkan mampu mempercepat akses kesehatan yang aman dan berkualitas.
Sinergi antar rumah sakit seperti ini menjadi sinyal bahwa kompetisi di dunia medis tak lagi soal siapa paling unggul, melainkan bagaimana saling belajar demi pelayanan yang lebih baik.
Jika kolaborasi semacam ini terus digalakkan, bukan tak mungkin standar pelayanan rumah sakit daerah di Jawa Barat akan semakin merata dan profesional. Dan masyarakatlah yang akan menjadi penerima manfaat terbesar.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
