“Permintaan darah bisa meningkat sewaktu-waktu, terutama untuk pasien operasi, ibu melahirkan, sampai kasus kegawatdaruratan. Kebutuhan darah tidak bisa ditunda,” tegasnya.
Ia menekankan, kolaborasi dengan PMI bukan sekadar agenda seremonial. Ini adalah langkah konkret agar stok darah tetap dalam batas aman. Sebab dalam dunia medis, keterlambatan suplai darah bisa berakibat fatal.
Di tengah aktivitas donor, terlihat suasana penuh kepedulian. Satu per satu pendonor berbaring tenang, sebagian tersenyum, sebagian lagi tampak gugup namun tetap mantap. Mereka sadar, satu kantong darah yang didonasikan bisa menyelamatkan lebih dari satu nyawa.
Titi menyebut antusiasme pendonor cukup menggembirakan. Menurutnya, ini menjadi bukti bahwa kepedulian sosial masyarakat Pangandaran masih sangat tinggi.
“Setiap kantong darah yang terkumpul sangat berarti. Kami ingin membangun kesadaran bahwa donor darah adalah aksi kemanusiaan yang dampaknya langsung dirasakan pasien,” ujarnya.
Tak hanya pegawai internal dan relawan, kegiatan ini juga dibuka untuk masyarakat luas. Langkah ini sekaligus menjadi ajang edukasi bahwa donor darah aman dilakukan selama mengikuti prosedur medis yang benar.
Masih banyak masyarakat yang ragu atau takut donor karena khawatir berdampak pada kesehatan. Padahal, secara medis, donor darah justru memiliki sejumlah manfaat, mulai dari membantu regenerasi sel darah hingga memantau kondisi kesehatan melalui pemeriksaan awal sebelum donor.
Bagi RSUD Pandega, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ini adalah bagian dari tanggung jawab sosial sebagai institusi pelayanan kesehatan yang berada di garis depan penyelamatan nyawa.
“Kami berharap budaya donor darah bisa tumbuh menjadi kebiasaan positif. Dengan begitu, ketika ada pasien yang membutuhkan, kita sudah siap. Tidak lagi panik mencari pendonor mendadak,” tambah Titi.
Kolaborasi lintas lembaga antara rumah sakit dan PMI ini juga menjadi simbol kuatnya rantai kemanusiaan di Pangandaran. Dalam situasi darurat, solidaritas menjadi kunci. Tanpa stok darah yang memadai, pelayanan medis bisa terganggu, bahkan nyawa menjadi taruhan.
Kegiatan donor darah ini pun diharapkan menjadi pemicu gerakan serupa di berbagai instansi, sekolah, hingga komunitas. Sebab kebutuhan darah tak mengenal waktu dan tak memilih siapa yang akan membutuhkan.
Hari ini mungkin kita yang mendonorkan. Esok bisa jadi keluarga atau kerabat kita yang membutuhkan.
Satu kantong darah, satu harapan. Dan di Hall Gedung A RSUD Pandega, harapan itu tengah dikumpulkan, setetes demi setetes.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
