PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Pantai Barat Pangandaran dikenal sebagai salah satu ikon wisata Jawa Barat. Hamparan pasir, ombak, dan panorama matahari terbenam selalu jadi daya tarik utama. Namun belakangan ini, muncul kembali keluhan warga dan wisatawan terkait aroma tak sedap serta aliran air yang diduga limbah menuju laut.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan publik, dari mana sebenarnya sumber limbah tersebut?
Tulisan ini merupakan opini penulis yang disusun berdasarkan fenomena dan keluhan yang berkembang di masyarakat, serta pengamatan umum di kawasan wisata.
Keluhan soal bau tak sedap di kawasan Pantai Barat bukan hal baru. Setiap musim liburan atau saat volume wisatawan meningkat, isu serupa kerap mencuat. Sejumlah warga menyebut adanya saluran air yang membawa cairan keruh menuju pantai.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kenyamanan wisatawan dan kesehatan lingkungan.
Namun penting digarisbawahi, hingga kini sumber limbah tidak bisa disimpulkan berasal dari satu pihak saja tanpa kajian teknis yang jelas.
Secara umum, kawasan wisata padat seperti Pantai Barat Pangandaran memiliki berbagai potensi sumber limbah. Mulai dari aktivitas usaha pariwisata, pemukiman warga, fasilitas umum, hingga saluran drainase campuran yang membawa air hujan dan limbah domestik.
Beberapa pihak menduga sebagian limbah berasal dari aktivitas usaha wisata yang belum memiliki sistem pengolahan maksimal. Namun di sisi lain, limbah rumah tangga dan fasilitas umum juga berpotensi menyumbang pencemaran jika pengelolaannya belum tertata dengan baik.
Karena itu, menyimpulkan satu pihak sebagai penyebab utama tanpa data resmi justru berisiko menyesatkan publik.
Selain sumber limbah, persoalan lain yang sering disebut adalah kondisi drainase. Saluran yang bercampur antara air hujan, limbah domestik, dan sampah berpotensi menimbulkan bau serta pencemaran ketika langsung bermuara ke laut.
Jika tidak ada sistem pemisahan dan pengolahan yang baik, maka air buangan dari berbagai aktivitas akan terkumpul di satu jalur dan akhirnya mengalir ke kawasan pantai.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan limbah bukan hanya soal siapa yang membuang, tetapi juga bagaimana sistem pengelolaan kawasan dirancang dan diawasi.
Dalam sudut pandang opini, persoalan limbah di Pantai Barat Pangandaran seharusnya dilihat sebagai tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam pengawasan, pembangunan infrastruktur, dan penegakan aturan lingkungan.
Pelaku usaha pariwisata juga diharapkan memastikan sistem pengolahan limbah berjalan sesuai standar.
Sementara itu, masyarakat dan wisatawan perlu meningkatkan kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan serta menjaga kebersihan kawasan wisata.
Upaya kolaboratif menjadi kunci agar masalah tidak terus berulang setiap tahun.
Pantai Barat Pangandaran adalah wajah pariwisata daerah yang harus dijaga bersama. Keluhan soal bau limbah seharusnya menjadi alarm keras untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan lingkungan.
Tanpa langkah nyata dan kerja sama semua pihak, masalah limbah akan terus menjadi bayang-bayang yang merusak citra wisata. Sebaliknya, jika ditangani secara serius dan transparan, Pangandaran bisa tetap menjadi destinasi unggulan yang nyaman, bersih, dan membanggakan.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
