Pantauan di kolom komentar menunjukkan beragam reaksi yang didominasi oleh rasa kecewa dan kecurigaan.
Akun Dewi Cimootz Syailendra mempertanyakan target sasaran paket tersebut, "Susu sama jeruk dimakan bareng bisa bikin sakit perut.. itu untuk kelas berapa? TK/Paud? Total 8k," tulisnya.
Senada dengan itu, akun Astina Sutra bahkan menyinggung adanya potensi permainan bisnis di balik pengadaan paket ini. Ia menyarankan agar orang tua siswa berani bersuara.
"Mainkan atuh orang tua wali sejabar demo bos unggal sakola... can viral can rame biasanya," tulisnya dengan nada geram.
Tak hanya soal isi, warganet juga menyoroti detail kecil seperti kemasan plastik yang digunakan. Akun Asdon's menyindir dengan jenaka namun kritis, "Ari eta kantong teu acan ke etang ketua," yang kemudian ditimpali oleh Qhoba Cdr dengan satire, "Kantongna branded eta 5 jtan."
Di sisi lain, ada juga netizen yang memilih bersikap pasrah namun tetap kritis, seperti akun Moemoe Aliaskomet yang mengingatkan tentang kejujuran.
"Wios kang tampi we.. jalmi nu jujur sareng nu curang isukange aya bageana masing masing di akherat," ungkapnya.
Meski telah memicu kegaduhan, hingga saat ini belum ada keterangan resmi apakah paket tersebut merupakan paket asli yang dibagikan atau sekadar simulasi. Beberapa netizen seperti Hernawati menyebutkan bahwa di wilayahnya sendiri, seperti di SMP Bangunjaya, belum ada pembagian paket serupa.
Untuk memastikan informasi berimbang, iNewsPangandaran.id telah berupaya meminta keterangan dari pemilik akun Mujahid Jahid melalui pesan inbox Facebook, namun hingga saat ini belum mendapatkan tanggapan.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi pihak penyelenggara program untuk lebih transparan mengenai standarisasi gizi dan anggaran. Warganet kini menunggu penjelasan resmi agar isu ini tidak semakin liar dan menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap program pemerintah.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
