Beberapa komentar bahkan menyebut profesi dan keseharian Egi, menunjukkan bahwa ia dikenal tidak hanya di dunia maya, tetapi juga di kehidupan nyata. Hal inilah yang membuat kabar duka terasa lebih nyata dan menusuk.
Di tengah gelombang duka, warganet juga mempertanyakan kronologi kepergian Egi. Sejumlah komentar menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, namun hingga unggahan duka itu menyebar luas, belum ada penjelasan resmi yang disampaikan di ruang publik.
Kondisi ini membuat banyak pihak memilih bersikap hati-hati. Alih-alih berspekulasi, mayoritas warganet memilih mengirimkan doa dan ungkapan belasungkawa. Sikap ini terlihat dari dominasi komentar bernada religius dan empatik dibandingkan rasa ingin tahu yang berlebihan.
“Sing di tampi iman Islam-na,” tulis seorang pengguna, diamini oleh komentar-komentar lain yang senada.
Fenomena ini menunjukkan satu hal, media sosial Pangandaran sedang berduka bersama. Bukan karena sosok nasional, melainkan karena figur lokal yang terasa dekat, nyata, dan pernah hadir di layar ponsel mereka hampir setiap hari.
Dalam hitungan jam, unggahan duka berubah menjadi arsip kenangan. Setiap komentar adalah potongan rasa kehilangan. Setiap reaksi adalah pengakuan bahwa Egi pernah berarti.
Di tengah derasnya arus konten dan kreator baru, kepergian Egi menjadi pengingat pahit bahwa di balik layar, ada manusia dengan usia yang sepenuhnya rahasia Tuhan.
Kepergian Egi Prastian meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan warganet Pangandaran yang mengenalnya, baik secara langsung maupun lewat layar. Doa terus mengalir, mengiringi kepergiannya dengan harapan terbaik.
Innalillahiwainna ilaihirojiun. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan segala amal kebaikannya diterima. Pangandaran kehilangan satu warna di linimasa media sosialnya hari ini.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
