“Mugia sing husnul khotimah,” tulis seorang warganet.
“Teu nyangka pisan, keneh ningali live-na,” sahut yang lain.
“Umur mah rahasia Gusti Allah,” tulis akun lainnya, penuh kepasrahan.
Tak sedikit pula yang menyoroti betapa cepat kabar itu berbalik dari aktivitas biasa menjadi duka mendalam. “Da uhn apdet 3 jam katukang, ayeuna tos teu aya,” komentar warganet yang menyiratkan keterkejutan kolektif.
Di mata warganet, Egi dikenal sebagai kreator yang membumi dan dekat dengan realitas Pangandaran. Namanya kerap muncul di linimasa warga lokal, dengan konten-konten yang akrab, sederhana, dan terasa dekat dengan keseharian.
Tak heran jika kepergiannya memantik duka luas. Bagi banyak orang, Egi bukan sekadar kreator, tetapi bagian dari denyut media sosial Pangandaran itu sendiri. Sosok yang wajahnya sering muncul di beranda, kini hanya tinggal kenangan.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
