get app
inews
Aa Text
Read Next : Galon Isi BBM Disambar Api di SPBU Babakan Pangandaran, Pengendara Panik Berhamburan

Warga Langkaplancar Teriak! 50 Ribu Penduduk Tak Punya SPBU, Beli BBM Harus Tempuh 60 Km

Rabu, 02 September 2026 | 17:45 WIB
header img
Antrean warga membeli BBM di salah satu kios bensin eceran di Langkaplancar, Pangandaran. (Foto: iNewsPangandaran.id)

PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Nasib warga Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, kembali menjadi sorotan. Bagaimana tidak, sekitar 50 ribu warga yang tersebar di 15 desa hingga kini belum memiliki satu pun SPBU di wilayahnya.

Kondisi tersebut membuat warga harus mencari cara lain untuk mendapatkan bahan bakar minyak atau BBM.

Bagi masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani dan pekebun, BBM bukan sekadar kebutuhan kendaraan. Bahan bakar digunakan untuk mengoperasikan traktor, pompa air, mesin pemotong hingga gergaji mesin yang menunjang aktivitas pertanian sehari-hari.

Namun karena tidak ada SPBU, warga terpaksa mengandalkan kios bensin eceran.


Sementara jika ingin mendapatkan BBM dari SPBU, warga harus pergi ke Kecamatan Parigi dengan jarak sekitar 60 kilometer. 

Jarak tersebut tentu bukan perkara sepele. Selain membutuhkan waktu dan biaya, kondisi jalan menuju wilayah pegunungan Langkaplancar juga menjadi persoalan tersendiri.



Salah seorang warga Langkaplancar, Anton, mengatakan masyarakat sebenarnya memahami aturan pemerintah terkait pembelian BBM menggunakan jeriken. Warga pun, kata dia, bersedia memenuhi persyaratan administrasi yang telah ditentukan.

"Kendalanya adalah di sini (Langkaplancar) tidak ada pom bensin dan hanya mengandalkan kios bensin, sementara kehidupan ekonomi harus berjalan," kata Anton, Rabu (2/9/2026).

Anton menegaskan, masyarakat bukan ingin mengabaikan aturan. Menurutnya, pembelian BBM menggunakan jeriken dilakukan dengan mengikuti mekanisme dan rekomendasi dari instansi terkait.

"Kita sadar hukum dan aturan. Membeli BBM dengan jerigen juga dengan aturan dan mekanisme. Ada surat dari Dinas Pertanian, ada dari pemerintah desa dan surat rekomendasi yang diperlukan," ujarnya.

Persoalannya kini justru bagaimana masyarakat bisa mendapatkan BBM secara mudah dan legal jika SPBU tidak tersedia di wilayah mereka.
Apalagi mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian.



"Karena mayoritas penduduk di Kecamatan Langkaplancar ini bekerja sebagai petani yang sangat membutuhkan BBM untuk kendaraan motor, traktor, gergaji mesin, pompa air dan lainnya," tutur Anton.

Keluhan tersebut juga dibenarkan Anggota DPRD Kabupaten Pangandaran, Dede Efendi.
Dede menyebut sekitar 50 ribu penduduk Langkaplancar tersebar di 15 desa. Mayoritas warga bekerja sebagai petani dan pekebun yang aktivitasnya sangat bergantung terhadap ketersediaan BBM.

"Mereka mayoritas bekerja sebagai petani dan berkebun, semua kegiatannya memerlukan BBM," kata Dede.

Selama ini, warga yang membutuhkan BBM dalam jumlah tertentu terpaksa membeli menggunakan jeriken dari SPBU yang berada di Kecamatan Parigi. Namun belakangan, warga mengaku semakin kesulitan mendapatkan BBM dengan cara tersebut.

"Tapi sekarang-sekarang ini sulit untuk membeli BBM menggunakan jerigen ke SPBU," ujarnya.

Padahal, persoalan ini sebelumnya sudah beberapa kali dibahas melalui pertemuan dengan sejumlah instansi, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.



Bahkan sempat muncul kebijakan agar masyarakat Langkaplancar tetap dapat membeli BBM menggunakan jeriken dengan syarat memenuhi prosedur dan mengantongi surat rekomendasi dari dinas terkait.

"Syaratnya yang penting sesuai prosedur dengan mengantongi surat rekomendasi dari dinas terkait (Dinas Pertanian)," katanya.

Dede mengungkapkan, salah satu persoalan yang membuat SPBU belum hadir di Langkaplancar adalah kondisi geografis dan akses jalan. Wilayah Langkaplancar berada di kawasan pegunungan dengan jalan yang berkelok-kelok serta terdapat sejumlah tanjakan dan turunan curam.

Kondisi tersebut dinilai menyulitkan kendaraan tangki pengangkut BBM untuk masuk ke wilayah Langkaplancar.

"Kendalanya akses jalan, sehingga kendaraan tanki pengangkut BBM dari Pertamina tidak dapat menempuh perjalanan ke wilayah Kecamatan Langkaplancar," ujarnya.

Padahal kebutuhan BBM di wilayah tersebut cukup tinggi. Bukan hanya untuk kendaraan pribadi, tetapi juga untuk menunjang aktivitas pertanian yang menjadi sumber penghasilan utama masyarakat.

Dede berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait segera mencari solusi.
Menurutnya, pemerintah perlu memikirkan pembangunan SPBU maupun fasilitas penyaluran BBM yang lokasinya lebih dekat dengan masyarakat.

"Ke depan pemerintah harus memikirkan terkait syarat utama untuk membuat SPBU dan meminta kepada semua pihak untuk bisa memberikan kebijakan khusus untuk masyarakat di Kecamatan Langkaplancar terkait pemenuhan kebutuhan BBM," pungkasnya.

Kondisi sulitnya mendapatkan BBM juga terlihat di salah satu kios bensin di Desa Cimanggu, Kecamatan Langkaplancar. Seorang petani bahkan mengaku kecewa karena kembali tidak mendapatkan BBM lantaran stok di kios tersebut habis.

Ia mengaku sudah dua hari kesulitan mendapatkan bahan bakar.

"Kemarin gak kebagian, sekarang juga. Saya kan harus nganter hasil pertanian. Mana harga timun sedang turun," ucap Tesa Rodiansyah dengan nada kesal.

Kelangkaan akses BBM ini pun menjadi dilema bagi warga. Di satu sisi masyarakat membutuhkan BBM untuk menggerakkan roda perekonomian dan aktivitas pertanian.
Namun di sisi lain, akses untuk mendapatkannya masih jauh dan terbatas.

Kini warga Langkaplancar berharap persoalan tersebut tidak terus berlarut.

Sebab bagi mereka, BBM bukan sekadar bahan bakar kendaraan, tetapi juga bahan bakar untuk menghidupkan perekonomian puluhan ribu warga di kawasan pegunungan Pangandaran.

Editor : Irfan Ramdiansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut