Warga Pangandaran Minta Evakuasi Tongkang Batu Bara Dihentikan Sementara Sebelum Ada Transparansi
Ia juga menyoroti belum adanya hasil uji laboratorium kualitas air yang dipublikasikan kepada masyarakat. Padahal, kata dia, dugaan penurunan derajat keasaman air pasca tumpahan batu bara dikhawatirkan berdampak terhadap sektor perikanan budidaya, nelayan tangkap, kawasan konservasi, hingga pariwisata di sepanjang Pantai Cibenda.
"Kami ingin alam kembali pulih, air kembali normal. Dampaknya sudah dirasakan masyarakat. Karena itu hasil uji laboratorium harus dibuka supaya semuanya jelas," ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Tim Salvage Evakuasi Tongkang, Teguh Bobby Alamsyah, mengaku penghentian sementara pekerjaan akan membuat proses evakuasi semakin sulit.
Menurutnya, semakin lama tongkang dibiarkan, kondisinya akan semakin terpendam.
Meski demikian, pihaknya menghormati aspirasi warga dan menyatakan keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama.
"Kalau melihat kondisi ombak sekarang, proses evakuasi bisa memakan waktu lima sampai enam bulan. Yang kami utamakan bukan kapalnya, tetapi keselamatan. Ombaknya sangat besar sehingga sulit mencapai lokasi tongkang," jelasnya.
Teguh menambahkan, saat ini tim masih melakukan survei untuk menentukan metode dan titik evakuasi batu bara yang paling aman. Ia menyebut terdapat dua tim yang bekerja, yakni tim penanganan tongkang dan tim penanganan sebaran batu bara dari kawasan Cibenda hingga Batuhiu.
"Kami masih survei arus dan gelombang. Jadi belum bisa memastikan titik maupun metode evakuasi yang akan digunakan," katanya.
Hingga kini, masyarakat berharap pemerintah, perusahaan pemilik tongkang, dan seluruh pihak terkait membuka informasi secara transparan agar proses penanganan pencemaran tidak menimbulkan polemik baru di tengah warga pesisir Pangandaran.
Editor : Irfan Ramdiansyah