Campak Mengintai Diam-Diam! Dokter Anak Bongkar Gejala yang Sering Disangka Flu
PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Warga diminta jangan lengah! Penyakit campak yang kerap dianggap sepele ternyata bisa “menyusup” diam-diam dan memicu bahaya serius. Fakta mengejutkan ini diungkap dalam kegiatan edukasi kesehatan bertajuk NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan) yang digelar RSUD Pandega Pangandaran.
Mengusung tema “Campak Datang Diam-Diam, Kenali Tandanya!”, kegiatan ini menghadirkan dokter spesialis anak, dr. Dyah Rahmawanti, Sp.A, yang membongkar fakta-fakta penting seputar penyakit campak yang masih sering diremehkan masyarakat.
Dalam pemaparannya, dr. Dyah menegaskan bahwa campak bukan sekadar ruam merah biasa. Penyakit ini disebabkan oleh virus morbillivirus yang sangat ganas dan mudah menular.
“Banyak yang mengira ini cuma flu biasa, padahal campak bisa berujung komplikasi serius kalau tidak ditangani dengan tepat,” tegasnya.
Menurut dr. Dyah, salah satu bahaya terbesar dari campak adalah gejalanya yang menyerupai flu di tahap awal. Tak sedikit orang tua yang terkecoh dan terlambat mengambil tindakan.
Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain:
• Demam tinggi hingga 39–40 derajat Celsius
• Batuk, pilek, dan mata merah
• Muncul bintik putih kecil di dalam mulut sebelum ruam merah menyebar
“Biasanya orang tua baru panik saat ruam muncul, padahal virus sudah lebih dulu menyerang,” ungkapnya.
Lebih mengejutkan lagi, virus campak bisa bertahan di udara hingga dua jam dan menyebar melalui percikan ludah saat penderita batuk atau bersin.
“Yang paling berbahaya, penderita sudah bisa menularkan virus 2 sampai 4 hari sebelum ruam terlihat,” jelas dr. Dyah.
Artinya, tanpa disadari, penyebaran bisa terjadi secara masif di lingkungan rumah, sekolah, hingga tempat umum.
Campak bukan hanya soal ruam dan demam. Jika diabaikan, penyakit ini bisa memicu komplikasi berat yang mengancam nyawa.
Beberapa komplikasi yang diungkap antara lain:
• Infeksi telinga
• Pneumonia (radang paru)
• Ensefalitis (radang otak)
• Gangguan penglihatan
•
“Ini yang sering tidak disadari masyarakat. Campak bisa berkembang jadi kondisi yang jauh lebih berbahaya,” tegasnya lagi.
Hingga saat ini, belum ada obat khusus untuk membunuh virus campak. Penanganan dilakukan dengan cara meredakan gejala dan menjaga kondisi tubuh pasien.
Langkah yang dianjurkan meliputi:
• Pemberian obat penurun panas
• Istirahat cukup
• Asupan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi
• Pemberian Vitamin A sesuai anjuran dokter
•
Namun, dr. Dyah menekankan bahwa langkah paling ampuh bukanlah pengobatan, melainkan pencegahan.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Dyah mengingatkan pentingnya imunisasi sebagai perlindungan utama bagi anak-anak dari serangan campak.
Jadwal vaksin MR yang dianjurkan:
• Dosis pertama: usia 9 bulan
• Dosis kedua: usia 18 bulan
• Booster: saat kelas 1 SD melalui program BIAS
“Jangan sampai anak kehilangan haknya untuk terlindungi. Imunisasi itu kunci utama,” tegasnya.
Melalui kegiatan NGOBATAN ini, RSUD Pandega Pangandaran berharap kesadaran masyarakat meningkat, terutama dalam mengenali gejala awal campak dan pentingnya imunisasi.
Bagi warga yang ingin berkonsultasi lebih lanjut, layanan pemeriksaan anak bersama dr. Dyah Rahmawanti tersedia di RSUD Pandega Pangandaran.
“Kenali tandanya, cegah bahayanya, lindungi buah hati kita,” pungkas dr. Dyah.
Editor : Irfan Ramdiansyah