Pernyataan Wagub Kalbar ke KDM Viral, Picu Perdebatan Panas di Media Sosial
Pernyataan tersebut langsung menjadi “bola panas” di media sosial. Warganet pun ramai-ramai memberikan komentar beragam, mulai dari yang mendukung, mengkritik, hingga menilai perbandingan tersebut tidak tepat sasaran.
Akun Suhermanherman menilai pembangunan tidak harus dilakukan sekaligus.
“Nggak harus serentak. Mau 1 km atau 10 km tiap tahun, yang penting lanjut terus,” tulisnya.
Sementara akun Vike menyoroti pola perbandingan yang dinilai kurang tepat.
“Mau luas mau kecil, kerjain aja!” sindirnya.
Akun lain, Lie Aliya, menegaskan bahwa perbandingan Kalbar dan Jawa Barat tidak bisa disamakan karena perbedaan jumlah penduduk, kondisi geografis, serta karakter wilayah.
Komentar senada disampaikan Hadian Ibrahim yang menilai keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari luas wilayah, tetapi dari capaian infrastruktur yang dibangun.
“Jangan cuma andalkan pusat, gali PAD,” tulisnya.
Namun di tengah perdebatan itu, isu lain ikut mencuat. Sejumlah warganet justru mempertanyakan paradoks Kalimantan yang dikenal kaya sumber daya alam, namun memiliki APBD yang relatif kecil.
Akun Bang Paliji mengungkapkan kebingungannya.
“Kalimantan penghasil batu bara, kok APBD cuma 6 triliun?” tulisnya.
Tak sedikit pula komentar yang menyinggung soal transparansi dan tata kelola anggaran daerah, sehingga memperluas arah diskusi publik dari sekadar perbandingan pembangunan menjadi isu kinerja dan kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah.
Di tengah ramainya respons publik, Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi dalam video akun pribadinya akhirnya angkat bicara menanggapi pernyataan tersebut. Dia menyampaikan apresiasi atas tantangan yang diberikan, namun menegaskan tidak ada niat sedikit pun untuk membandingkan pembangunan antar daerah.
“Saya mengucapkan terima kasih atas tantangannya. Mohon maaf, selama ini saya melaksanakan pembangunan di Jawa Barat tidak ada maksud untuk diperbandingkan dengan daerah lain,” ujarnya.
Dedi juga menegaskan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik, tantangan, serta kemampuan fiskal yang berbeda, terutama Kalbar yang memiliki wilayah sangat luas dengan keterbatasan anggaran.
“Kami memahami betapa beratnya daerah dengan luas seperti Kalimantan Barat dan keterbatasan fiskal yang dimiliki,” tambahnya.
Dia pun menyampaikan permohonan maaf jika berbagai program pembangunan di Jabar dianggap memicu perbandingan dengan daerah lain. Dedi berharap ke depan seluruh daerah dapat saling mendukung dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Semoga kita bisa bersama-sama terus melayani masyarakat dengan baik,” katanya.
Dedi menutup pernyataannya dengan salam untuk masyarakat Kalbar serta doa agar Wakil Gubernur Kalbar tetap diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan tugas.
Editor : Irfan Ramdiansyah