Viral! Program MBG Pangandaran Diduga Bagikan Makanan Tak Layak
Sementara itu, kritik tajam datang dari akun Nenti Widhya. Ia menyoroti menu makanan yang dianggap tidak sesuai standar gizi. Salah satu yang disorot adalah adanya telur setengah matang yang dinilai berbahaya, terutama bagi ibu hamil. Ia juga mempertanyakan kenapa menu disamaratakan antara anak sekolah, balita, hingga ibu hamil.
Tak kalah pedas, akun Bram Conero bahkan mengusulkan agar program MBG dihentikan. Menurutnya, anggaran yang ada lebih baik dialihkan untuk membantu panti jompo, anak yatim, dan masyarakat kurang mampu.
Suara serupa juga datang dari Ika Sartika yang meminta agar persoalan ini terus diviralkan agar mendapat perhatian serius dari pihak terkait.
Di sisi lain, akun Cha Gagal menilai bantuan dalam bentuk uang akan jauh lebih efektif dibandingkan program makanan yang dinilai berpotensi mubazir.
Menanggapi polemik yang kian memanas, pihak penyelenggara akhirnya buka suara. Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di SPPG Banjarharja, Agung Maulana, mengakui adanya kejadian tersebut.
Menurutnya, makanan yang dipermasalahkan adalah menu sayur capcay yang dibagikan pada 1 April lalu.
“Itu kemarin. Setelah kita telusuri, yang posting itu hanya satu orang. Tapi tetap saja, kita mengakui bahwa makanan itu mungkin tidak layak,” ujar Agung saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Kamis (2/4/2026) sore.
Agung menjelaskan, kejadian itu terjadi karena pihaknya masih dalam tahap adaptasi, terutama dalam menentukan menu yang tepat.
“Memang kemarin ada kendala bahan baku. Jadi sayurnya sempat menunggu, sehingga kondisinya agak layu,” jelasnya.
Meski demikian, ia memastikan pihaknya langsung melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang.
“Hari ini pun kalau ada masakan yang agak kurang baik, kita buang dan masak lagi,” tegasnya.
Hingga saat ini, polemik MBG di Pangandaran masih terus bergulir di media sosial. Sementara itu, belum ada keterangan resmi lanjutan dari pihak terkait mengenai langkah konkret ke depan terkait program tersebut.
Editor : Irfan Ramdiansyah