Manisnya Buka Puasa, Tapi Jangan Kebablasan! Ini Hitungan Kalorinya
PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Momen berbuka puasa yang identik dengan hidangan manis ternyata tak boleh dianggap sepele. Di tengah euforia ngabuburit, RSUD Pandega Pangandaran justru melempar “alarm” penting soal pilihan menu takjil yang sering dianggap sepele oleh masyarakat.
Lewat unggahan media sosial resminya, pihak rumah sakit mengulas perbandingan kandungan gizi antara dua menu favorit saat berbuka, yakni kurma dan kolak pisang. Hasilnya? Cukup bikin kaget!
Dalam data yang dibagikan, kurma dengan takaran 3 buah atau sekitar 24 gram hanya mengandung sekitar 66 kilokalori. Kandungan gulanya berada di kisaran 16 gram, dengan lemak nol gram. Tak heran jika buah khas Timur Tengah ini kerap direkomendasikan sebagai menu pembuka puasa yang lebih ringan.
Namun, cerita berbeda justru datang dari kolak pisang. Dalam satu mangkuk kecil atau sekitar 100 gram, kolak pisang bisa mengandung 160 hingga 200 kilokalori. Gula di dalamnya bahkan mencapai sekitar 20 gram, dengan tambahan lemak sekitar 8 gram.
Angka ini tentu bukan tanpa alasan. Pihak rumah sakit menjelaskan, tingginya kalori dalam kolak dipengaruhi oleh bahan tambahan seperti santan dan gula aren yang menjadi ciri khas hidangan tersebut.
“Kalori kolak bisa lebih tinggi tergantung cara pengolahan, terutama penggunaan santan kental dan gula,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.
Kondisi ini membuat kolak pisang yang selama ini dianggap ‘aman’ justru berpotensi menjadi sumber kalori berlebih jika dikonsumsi tanpa kontrol.
Meski begitu, masyarakat tidak perlu panik atau langsung menghindari makanan manis saat berbuka. Pihak RSUD Pandega menegaskan bahwa konsumsi makanan manis tetap diperbolehkan, selama porsinya dijaga dengan bijak.
Edukasi ini sengaja disampaikan sebagai pengingat bahwa setelah seharian berpuasa, tubuh memang membutuhkan asupan energi cepat. Namun, jika berlebihan, justru bisa berdampak pada metabolisme tubuh.
Fenomena “balas dendam” saat berbuka seringkali membuat seseorang mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak dalam jumlah besar. Tanpa disadari, hal ini bisa memicu lonjakan gula darah hingga gangguan kesehatan lainnya.
Melalui konten edukatif yang rutin dibagikan, RSUD Pandega Pangandaran berharap masyarakat bisa lebih cerdas dalam memilih makanan, khususnya di bulan Ramadan.
Tak hanya soal takjil, mereka juga mendorong masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh, memahami gejala penyakit sejak dini, serta mulai menerapkan pola makan seimbang dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah maraknya jajanan berbuka yang menggoda di pinggir jalan hingga pasar takjil, pesan ini menjadi penting. Jangan sampai niat ibadah justru dibarengi pola makan yang merugikan kesehatan.
Intinya sederhana, buka puasa boleh manis, tapi jangan sampai berujung “pahit” buat tubuh sendiri.
Editor : Irfan Ramdiansyah