get app
inews
Aa Text
Read Next : Diserbu Jelang Magrib! Saung Lesehan Agus Kucir Jadi Magnet Buka Puasa di Pangandaran

Dari Telur Rebus hingga Kacang Tanah, MBG Dipertanyakan Lagi: Berulang Seolah Tanpa Pengawasan

Rabu, 25 Februari 2026 | 01:05 WIB
header img
Menu MBG yang jadi sorotan. ( Foto: tangkapan layar)

Nada kekecewaan itu seolah menggambarkan akumulasi rasa kesal. Sebab, keluhan serupa bukan kali pertama muncul. Beberapa warga menyebut persoalan menu MBG ini terus berulang lagi dan lagi, seolah tanpa evaluasi dan pengawasan ketat.

Yang jadi pertanyaan, apakah menu yang dibagikan sudah memenuhi standar kecukupan gizi? Apakah ada pengawasan dari tenaga ahli gizi? Atau sekadar formalitas pembagian tanpa perhitungan kebutuhan nutrisi yang jelas?

Program MBG sendiri ditujukan tidak hanya untuk pelajar, tetapi juga kelompok rentan seperti ibu hamil dan ibu menyusui. Dalam konteks kesehatan, dua kelompok ini justru membutuhkan asupan protein, vitamin, mineral, dan kalori yang memadai demi mendukung tumbuh kembang janin maupun bayi.

Namun di lapangan, realita yang ditampilkan dalam video dan foto unggahan warga memunculkan keraguan. Kemasan plastik sederhana, porsi minim, dan variasi menu yang berubah-ubah tanpa pola jelas membuat publik bertanya-tanya soal standar yang digunakan.

Sebagian warga menduga ada yang tidak beres dalam tata kelola program. Meski tudingan korupsi masih sebatas komentar warganet dan belum terbukti, persepsi negatif sudah telanjur menyebar. Di era media sosial, satu video bisa memantik ribuan komentar dalam hitungan jam.

Situasi ini tentu menjadi pekerjaan rumah serius bagi penyelenggara program. Transparansi anggaran, mekanisme pengadaan bahan makanan, hingga standar menu semestinya dibuka secara jelas agar tak memicu spekulasi liar.

Ironisnya, hingga polemik ini ramai diperbincangkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait. Belum ada penjelasan dari Badan Gizi Nasional maupun Koordinator MBG di Kabupaten Pangandaran yang bisa menjawab keresahan publik.

Padahal, klarifikasi sangat dibutuhkan untuk meredam asumsi dan menjaga kepercayaan masyarakat. Tanpa penjelasan, ruang kosong informasi akan terus diisi opini, dugaan, dan kemarahan.

Program yang sejatinya bertujuan mulia ini kini berada di persimpangan. Di satu sisi, masyarakat berharap bantuan pangan tetap berjalan dan tepat sasaran. Di sisi lain, kualitas dan kelayakan menu menjadi tuntutan yang tak bisa diabaikan.

Jika polemik ini kembali terulang tanpa evaluasi menyeluruh, bukan tak mungkin kepercayaan publik akan kian terkikis. Dan ketika kepercayaan hilang, program sebaik apa pun akan selalu dicurigai.

Kini, warga Pangandaran menunggu. Menunggu penjelasan. Menunggu perbaikan. Dan yang paling penting, menunggu bukti bahwa program makan bergizi benar-benar soal gizi, bukan sekadar bagi-bagi paket yang jauh dari kata layak. 

Editor : Irfan Ramdiansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut