Pasar Pananjung Pangandaran Mulus Lewat AI, Netizen Sindir: Mimpi di Siang Bolong
“Moal matak mang,” komentar warganet, yang jika diterjemahkan bermakna tidak akan kejadian.
Sindiran makin tajam saat ada yang menuliskan, “Kebanyakan PHP,” disertai emoji ngakak, seolah menggambarkan janji-janji perubahan yang tak kunjung terealisasi.
Meski dibalut candaan, komentar-komentar tersebut mencerminkan kekecewaan publik. Banyak yang menilai kondisi Pasar Pananjung tak sebanding dengan status Pangandaran sebagai daerah wisata unggulan.
Ironisnya, sebelum unggahan AI itu ramai, para pedagang sebenarnya sudah berupaya mandiri. Mereka patungan, urunan uang sendiri untuk memperbaiki jalan pasar secara swadaya. Langkah itu diambil lantaran keluhan yang selama ini disampaikan tak kunjung mendapat respons nyata dari pemerintah.
“Kami cuma ingin pasar yang layak, bersih, dan nyaman. Jangan cuma wacana,” ungkap seorang pedagang dengan nada kesal.
Kini, potret pasar versi AI itu bukan sekadar unggahan iseng. Ia berubah menjadi simbol sindiran keras, sekaligus jeritan pedagang dan warga yang mendambakan perubahan nyata.
Netizen boleh tertawa, boleh nyinyir. Tapi pesan di baliknya jelas, Pasar Pananjung butuh aksi, bukan sekadar mimpi digital.
Editor : Irfan Ramdiansyah