Getuk Lindri: Rasa Manis yang Ditinggalkan Zaman, Tapi Masih Hidup di Hati yang Belum Lupa
Ia mengaku rindu suasana pasar yang dulu ramai dengan suara pedagang yang saling sapa, bukan musik TikTok dari speaker warung sebelah.
Ironisnya, di tengah banyaknya program “pelestarian budaya”, justru jajanan seperti getuk ini yang paling dulu punah. Tak ada sentuhan nyata dari pemerintah untuk menjaga warisan kuliner rakyat kecil.
Bicara UMKM sih lantang, tapi yang dibina malah produk baru yang cuma numpang tren.
Getuk lindri kini tinggal cerita, mungkin sebentar lagi tinggal legenda. Padahal, di tiap serat singkong yang ditumbuk itu tersimpan nilai, kerja keras, kesabaran, dan cinta ibu-ibu kampung yang tak pernah viral.
Kalau dibiarkan terus begini, jangan salahkan waktu. Yang sebenarnya membunuh getuk lindri bukan modernitas tapi kita sendiri, yang sibuk mengejar “estetika digital” sambil lupa rasa asli dari tanah tempat kita berpijak.
Kini, harapan itu ada di tangan generasi muda Pangandaran. Bukan mustahil getuk lindri bisa hidup lagi dibungkus kreatif, dijual dengan gaya baru, tapi tetap setia pada rasa lamanya.
Karena menjaga getuk berarti menjaga jati diri. Sebab tanpa kenangan rasa, Pangandaran hanya akan jadi tempat wisata yang indah, tapi kehilangan jiwa.
Editor : Irfan Ramdiansyah