Namun, pernyataan bahwa persoalan tersebut hanya sebatas miskomunikasi langsung dibantah Ketua Karang Taruna Bina Remaja Desa Sindangwangi, Padna.
Menurut Padna, surat aduan tidak dibuat tanpa alasan. Pihaknya mengaku menerima sejumlah keluhan dari BUMDes, petani melon, hingga pelaku UMKM yang sebelumnya ikut memasok kebutuhan SPPG.
"Makanya kita membuat surat aduan ke dewan. Kalau tidak ada respons positif, kita akan lakukan audiensi secepatnya," ujar Padna.
Padna menegaskan, persoalan tersebut bukan sekadar masalah komunikasi. Ia menuding respons dari pihak yayasan pengelola SPPG mulai lambat. Bahkan, menurutnya, terdapat dugaan intervensi harga terhadap pemasok sebelumnya.
"Perlu digarisbawahi bahwa ini bukan kesalahan komunikasi, tapi pihak dari yayasan sudah slow respons dan mulai ada dugaan intervensi harga terkait suplai sebelumnya agar tidak lagi bisa menyuplai," katanya.
Tak berhenti di situ. Padna juga menduga rantai pasok SPPG berpotensi dikuasai pihak tertentu. Ia mengaku memperoleh informasi mengenai pembentukan koperasi atau usaha dagang yang diduga akan masuk dalam rantai suplai SPPG.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
