PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana pusat perbelanjaan hingga pasar tradisional mulai dipadati warga yang berburu kebutuhan Lebaran. Mulai dari baju baru, sepatu, hingga berbagai perlengkapan lainnya menjadi incaran masyarakat agar tampil istimewa saat hari kemenangan tiba.
Namun di tengah euforia tersebut, Pimpinan Pondok Pesantren Riyadussalikin, KH Luthfi Fauzi, mengingatkan masyarakat agar tidak salah memaknai Idulfitri. Menurutnya, makna Lebaran sejatinya bukan sekadar mengenakan pakaian baru atau menikmati hidangan istimewa.
“Idulfitri itu maknanya kembali ke fitrah, kembali kepada kesucian setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan,” ujar KH Luthfi Fauzi.
Ia menjelaskan, tradisi memakai baju baru memang bukan sesuatu yang dilarang. Namun hal tersebut tidak boleh menjadi tujuan utama dalam merayakan Idulfitri. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang mampu memperbaiki diri setelah menjalani proses spiritual selama Ramadan.
“Baju baru boleh saja, itu bagian dari kebahagiaan menyambut hari raya. Tapi jangan sampai makna utama Idulfitri justru tertutup oleh hal-hal yang bersifat lahiriah,” jelasnya.
Menurutnya, esensi dari Idulfitri adalah kemenangan bagi umat Islam yang berhasil menahan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Ia juga mengingatkan bahwa salah satu tanda seseorang meraih kemenangan di hari raya adalah berubah menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
“Kalau setelah Ramadan kita masih sama seperti sebelumnya, bahkan tidak ada perubahan dalam ibadah dan perilaku, maka perlu kita renungkan kembali makna dari puasa yang sudah dijalani,” ungkapnya.
Selain itu, KH Luthfi Fauzi juga mengajak masyarakat untuk menjadikan momen Idulfitri sebagai waktu mempererat silaturahmi dan saling memaafkan. Tradisi saling berkunjung dan meminta maaf, menurutnya, merupakan nilai luhur yang sangat sejalan dengan ajaran Islam.
“Lebaran adalah momentum untuk membersihkan hati, saling memaafkan, dan memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang,” katanya.
Ia berharap masyarakat tidak hanya sibuk mempersiapkan kebutuhan lahiriah menjelang Lebaran, tetapi juga mempersiapkan diri secara batin.
“Yang paling penting adalah hati yang bersih, niat yang tulus, dan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadan,” pungkasnya.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
