Ketiganya hidup dalam kondisi serba terbatas. Rumah yang mereka tempati sebelumnya jauh dari kata layak—atap bocor, dinding rapuh, hingga lantai yang memprihatinkan. Di usia senja, mereka masih harus memeras keringat sebagai buruh tani dan buruh lepas demi menyambung hidup.
Pembangunan dilakukan selama sepekan dan menjadi bagian dari program serentak jajaran kepolisian di wilayah Polda Jawa Barat. Peresmian dijadwalkan berlangsung pada 4 Maret 2026 dan terhubung langsung secara serempak bersama Kapolri.
Kapolres menegaskan, pihaknya tak ingin program ini sekadar formalitas.
“Kami hadir langsung ke lapangan untuk memverifikasi kondisi fisik bangunan serta memastikan kriteria penerima bantuan sudah sesuai. Ini komitmen kami, Polri hadir bukan hanya untuk menjaga keamanan, tapi juga meringankan beban sosial warga,” tegasnya.
Didampingi jajaran pejabat utama, termasuk Kasat Binmas AKP Didi Sutardi, Kapolres memastikan proses pembangunan berjalan transparan dan tepat sasaran.
Kisah Ibu Dinem bikin hati terenyuh. Di usia 81 tahun, ia masih harus bekerja sebagai buruh tani. Setiap hari, langkahnya yang renta tetap menyusuri kebun demi upah seadanya. Rumah yang ia tempati sebelumnya nyaris roboh dan tak lagi aman dihuni.
Begitu pula Karsodi (74), buruh harian lepas yang menggantungkan hidup dari panggilan kerja serabutan. Penghasilannya tak menentu, sementara kondisi rumahnya jauh dari standar kesehatan.
Ibu Konih pun tak jauh berbeda. Sebagai buruh harian lepas, ia harus menerima pekerjaan apa saja demi bertahan hidup. Rumah sederhana yang ditempatinya sebelumnya berdinding rapuh dan atap yang tak mampu menahan hujan deras.
Kini, ketiganya bisa sedikit bernapas lega. Rumah yang sedang dibangun akan menjadi hunian yang lebih kokoh, sehat, dan aman.
Program ini tak berjalan sendiri. Polres Pangandaran menggandeng pemerintah daerah dan dinas sosial guna memastikan aspek administrasi maupun teknis berjalan sesuai aturan.
Sinergi lintas sektor ini sekaligus menjadi bukti bahwa program sosial tidak bisa dilakukan setengah hati. Semua pihak harus turun tangan, mulai dari pendataan hingga pengawasan pembangunan.
Langkah ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa kepolisian hanya hadir saat ada persoalan hukum. Lewat program Rutilahu, Polres Pangandaran ingin menunjukkan wajah humanis Polri yang hadir di tengah kesulitan rakyat.
Program bedah rumah ini menjadi pesan tegas: polisi bukan hanya soal patroli dan penindakan. Ada sisi kemanusiaan yang terus dijaga.
Bagi tiga keluarga penerima manfaat, bantuan ini bukan sekadar tembok dan atap baru. Ini adalah harapan baru. Tempat berteduh yang lebih aman di masa tua, sekaligus simbol bahwa mereka tidak sendirian menghadapi kerasnya hidup.
Di tengah kondisi ekonomi yang masih menekan masyarakat kecil, aksi nyata seperti ini menjadi oase. Setidaknya, ada secercah kepedulian yang benar-benar terasa, bukan hanya terdengar.
Polres Pangandaran pun menegaskan komitmennya untuk terus hadir membantu masyarakat, tidak hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam upaya peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan warga.
Dan bagi tiga keluarga di pelosok Pangandaran itu, pekan ini bukan sekadar pembangunan rumah melainkan pembangunan harapan.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
