PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Lagi dan lagi, menu Program Makan Bergizi (MBG) kembali jadi sorotan. Kali ini unggahan di media sosial yang memperlihatkan paket MBG di wilayah Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran memantik gelombang komentar bernada satir dari warganet.
Dalam foto yang beredar, tampak satu kotak susu rasa stroberi kemasan kecil, tiga butir telur puyuh dalam wadah plastik, satu lembar roti tawar terbungkus rapi, serta beberapa butir kurma dalam plastik bening.
Pengunggah menuliskan kalimat menantang,
“Coba tebak sabaraha duit menu mbg tk legok jawa hari ini.”
Tak butuh waktu lama, kolom komentar langsung ramai. Satu per satu netizen ikut bersuara.
Akun Dhany A menulis, “Wah eta mh aya 3500,” disertai emoji tertawa.
Mam Dani Dani berkomentar santai, “Alhamdulillah komo abi mah te kitu kitu acan.”
Sementara Ade Sr. menyinggung dengan kalimat, “Dagang sami sami hoyong gaduh bati.”
Tak kalah satir, Amar Muarif Pratama menyebut, “35rb jeung bensinan 1 liter,” yang langsung mengundang respons balik dari pengunggah.
Erni Kurniasih pun ikut bertanya, “Jatah sabaraha poe.”
Komentar bernada menyindir juga datang dari Widi Doank yang menulis, “beuki sae MBG na.”
Sedangkan Siti Maesaroh berujar ringan, “Kde nging wawartos KA pa Dedi ya. Haha.”
Akun Nona Vania menimpali, “masyaaalooh mani sae BMKG na,” disertai emoji menangis tertawa.
Edi Permana menaksir, “Di handapeun 10 rb.”
Namun Ika Mustika Rahayu langsung menyahut, “10 RB g hnteu jigana.”
Komentar lain datang dari Sukmayanti Sukmayanti yang menulis, “10 rebu eta aya moal.”
Sementara Teddy Kjm menilai singkat, “Makin parah.”
Ada pula yang melempar candaan berlebihan. Toro Ardiansyah menulis “5M,” disusul Maya Amelia dengan “1 triliun.”
Sedangkan Dede Irwan hanya menuliskan angka singkat, “13.”
Ragam komentar itu memperlihatkan dua sisi respons publik. Ada yang jelas-jelas menyindir nilai anggaran, ada yang sekadar bercanda, dan ada pula yang menyiratkan kekecewaan.
Fenomena ini menambah daftar panjang perbincangan soal menu MBG di Kabupaten Pangandaran. Dalam beberapa waktu terakhir, isu variasi menu dan nilai per porsi kerap muncul di media sosial maupun grup percakapan warga.
Program MBG sejatinya dirancang untuk mendukung pemenuhan gizi anak-anak sekolah. Namun ketika isi paket dinilai sederhana dan tak sesuai ekspektasi sebagian masyarakat, ruang diskusi pun terbuka lebar.
Di era digital, satu unggahan bisa memantik puluhan hingga ratusan opini. Lagi dan lagi, menu MBG menjadi bahan obrolan. Netizen bersuara dengan gaya masing-masing dari yang santai, menyindir, hingga terang-terangan mempertanyakan.
Apakah ini sekadar dinamika warganet? Atau sinyal agar evaluasi dilakukan lebih serius?
Yang pasti, sorotan publik belum juga reda. Dan seperti sebelumnya, perdebatan soal menu MBG kembali berulang.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
