Dulu Sederhana, Rasanya Nendang! Takjil Tempo Doeloe Pangandaran Bikin Kangen Kampung Halaman

Irfan ramdiansyah
Ilustrasi. ( Foto: AI)

PANGANDARAN, pangandaran.inews.id - Jauh sebelum minuman warna-warni berjejer di media sosial dan takjil kekinian diburu demi konten, warga pesisir Pangandaran sudah punya tradisi berbuka yang sederhana, tapi bikin lidah susah move on. Tak ada embel-embel “viral”, tak ada topping melimpah. Yang ada cuma rasa asli kampung halaman jujur, kuat, dan bikin kangen.

Ramadan tempo doeloe di Pangandaran bukan soal gaya, tapi soal kebersamaan. Anak-anak berlarian di halaman masjid, suara bedug bersahutan dengan debur ombak, sementara di dapur, para ibu sudah sibuk menyiapkan penganan khas yang hari ini mungkin mulai jarang ditemui.

Berikut deretan takjil lawas yang pernah jadi primadona berbuka di pesisir selatan.

Galendo: Si “Ampas” yang Jadi Primadona

Meski lebih dikenal sebagai oleh-oleh khas Ciamis, galendo juga punya tempat spesial di hati warga Pangandaran lama. Dulu, galendo bukan sekadar buah tangan wisatawan, tapi camilan rumahan yang akrab saat azan magrib berkumandang.

Terbuat dari ampas minyak kelapa yang dimasak hingga kecokelatan, galendo punya cita rasa gurih-manis yang khas. Teksturnya padat, sedikit berminyak, tapi justru di situlah kenikmatannya. Biasanya disantap bersama pisang rebus hangat atau sekadar dicocol gula pasir.

Di Desa Cikembulan Kecamatan Sidamulih, seorang warga sepuh bernama Saodah masih mengingat betul bagaimana suasana berbuka puasa puluhan tahun silam. Baginya, takjil bukan soal tren, tapi soal rasa yang jujur dan kebersamaan.

“Dulu mah, buka puasa cukup galendo sama cai panas juga sudah nikmat,” ujarnya mengenang masa kecilnya.

Tak ada kemasan modern. Galendo dibungkus daun atau kertas minyak, dibeli di warung kecil pinggir jalan. Sederhana, tapi mengenyangkan.

Sale Lidah: Manis Legit Dijemur Matahari Pantai

Kalau bicara soal pisang sale, Pangandaran tak bisa dipisahkan dari sejarahnya. Sale lidah yang dulu dijemur langsung di bawah terik matahari pantai punya aroma khas perpaduan manis alami dan sedikit sentuhan asap kayu bakar.

Prosesnya panjang. Pisang diiris tipis memanjang, lalu dijemur di para-para bambu. Angin laut ikut membantu mengeringkan, memberi karakter rasa yang sulit ditiru mesin modern.

Saat berbuka, sale lidah jadi energi instan. Satu dua potong saja sudah cukup mengembalikan tenaga setelah seharian menahan lapar. Teksturnya legit, sedikit kenyal, dengan rasa manis yang tidak menusuk.

Anak-anak dulu sering menyelipkan sale di saku baju koko, menunggu waktu berbuka sambil bermain di lapang.

Kerupuk & Sambal Terasi: Takjil Pedas Anti Mainstream

Kalau daerah lain identik dengan kolak atau es buah, warga Pangandaran tempo dulu justru tak sungkan berbuka dengan yang pedas-segar. Kerupuk kuning atau kerupuk melarat jadi andalan.

Yang bikin beda? Cocolannya. Sambal terasi khas Pangandaran punya aroma laut yang kuat. Terasi lokal yang masih segar ditumbuk bersama cabai rawit, bawang, dan sedikit perasan jeruk. Begitu dicocol kerupuk, suara kriuk berpadu dengan sensasi pedas yang langsung “nendang”.

Bagi orang luar mungkin terdengar aneh masa buka puasa pakai sambal? Tapi bagi warga pesisir, itulah selera. Pedasnya justru membangkitkan nafsu makan sebelum menyantap nasi hangat.

Tradisi ini banyak ditemui di wilayah Pananjung hingga Parigi. Sederhana, tapi penuh karakter.

Bubur Sumsum & Candil di Pincuk Daun Pisang

Menjelang magrib, pasar kaget di sekitar Pananjung atau Parigi dulu selalu ramai. Penjual bubur sumsum dan bubur candil duduk bersila, dikelilingi panci besar yang mengepul.

Tak ada mangkuk plastik. Bubur disajikan di atas pincuk daun pisang. Aroma daun bercampur uap santan hangat menciptakan sensasi tersendiri.

Siraman gula kawung gula aren asli hasil sadapan pohon kelapa lokal memberi rasa manis yang dalam, tidak bikin enek, apalagi serak di tenggorokan. Candil kenyal berpadu dengan sumsum lembut, lumer di mulut.

Harga? Dulu cuma recehan. Tapi nilai kenangannya hari ini tak ternilai.

Es Kelapa Muda: Murni Tanpa Sirup

Sebelum tren minuman warna-warni menjamur, takjil paling dicari adalah es kelapa muda langsung dari pohon. Degan dipetik dari kebun atau pinggir pantai, dibelah saat itu juga. Airnya murni, segar alami. Kadang hanya ditambah sedikit gula merah cair. Tanpa sirup botolan, tanpa topping aneh-aneh.

Sensasi dinginnya menyapu haus, apalagi setelah seharian beraktivitas di bawah terik matahari pesisir. Daging kelapanya lembut, disendok langsung dari batoknya.

Itulah kemewahan sederhana Ramadan tempo dulu.

Takjil tempo doeloe Pangandaran bukan cuma soal rasa. Ia adalah cerita tentang kebersamaan, tentang anak-anak yang menunggu bedug dengan sabar, tentang ibu-ibu yang memasak tanpa pamrih, dan tentang kampung yang masih akrab satu sama lain.

Kini, zaman berubah. Takjil makin variatif, kemasan makin menarik, pilihan makin banyak. Tapi bagi sebagian warga lama, rasa galendo hangat, sale lidah asli jemuran pantai, hingga sambal terasi pedas menyengat tetap punya tempat di hati.

Ramadan boleh modern, tapi kenangan tak pernah basi. Dan di Pangandaran, takjil tempo doeloe selalu punya cerita yang bikin rindu.

Editor : Irfan Ramdiansyah

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network