“Saya jualan supaya bisa bantu nenek beli beras. Saya senang bisa sekolah sekaligus bantu nenek. Ini keinginan saya sendiri,” tutur Khoenunisa lirih, namun tegas.
Ia mengaku dalam sehari mampu menjual puluhan tusuk sate totok. Jika dagangan habis, hatinya lega. Bukan karena uangnya, tetapi karena tahu dapur di rumahnya bisa tetap mengepul.
“Biasanya saya jual 40 sampai 50 tusuk. Harganya seribu rupiah per tusuk. Alhamdulillah sering habis,” tambahnya dengan senyum sederhana.
Kisah Khoenunisa juga menyentuh hati para guru di sekolahnya. Wali kelasnya, Silviana Maya, mengaku bangga sekaligus terharu melihat ketegaran siswinya itu.
“Khoenunisa anak yang mandiri dan tidak pernah mengeluh. Dia berjualan atas kemauannya sendiri. Ini menjadi contoh bagi teman-temannya,” ujar Silviana.
Menurut Silviana, pihak sekolah memberikan izin dan dukungan penuh terhadap aktivitas Khoenunisa, selama tidak mengganggu proses belajar mengajar.
“Ayahnya sudah meninggal, ibunya bekerja di luar daerah, dan sekarang tinggal bersama neneknya. Teman-temannya pun sangat mendukung. Kami melihat ini sebagai pembelajaran karakter yang luar biasa,” lanjutnya.
Dengan tangan kecilnya, Khoenunisa tetap cekatan membungkus dagangan. Sikapnya sopan, tutur katanya halus. Tidak ada rasa malu, apalagi keluhan. Yang ada hanya ketegaran seorang anak yang dipaksa keadaan untuk tumbuh lebih cepat.
Kisah Khoenunisa bukan sekadar cerita tentang siswi yang berjualan di sekolah. Ini adalah potret nyata perjuangan sunyi anak Indonesia di tengah keterbatasan hidup. Sebuah cerita kecil dari Pangandaran yang diam-diam mengguncang nurani dan membuat siapa pun yang membacanya terdiam.
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait
