Koordinator Desa, Dede Mulyana, menegaskan workshop ini lahir dari masalah nyata di lapangan.
“Harapannya, warga bisa langsung praktik dan punya bekal untuk mengatasi masalah sampah di lingkungannya,” ujarnya.
Tak main-main, acara ini ditutup dengan penandatanganan MoU antara Kepala Dusun Kalapatiga dan BSI Sahate. Bahkan, langsung ada kesepakatan pembentukan tim penggerak serta rencana melahirkan bank sampah baru di dusun tersebut.
Sebagai bukti keseriusan, mahasiswa KKN juga akan meluncurkan buku panduan pengelolaan sampah yang praktis dan mudah dipahami. Buku ini bakal disebar ke berbagai dusun agar gerakan tak berhenti di satu titik saja.
“Kami tidak ingin berhenti di workshop. Buku panduan ini jadi role model pengelolaan sampah yang bisa ditiru desa lain,” ujar Nur Aziz, sekretaris kegiatan.
Kasi Pelayanan Desa Babakan, Wahab, menyambut langkah itu dengan wajah sumringah. “Kami bangga, mahasiswa KKN tidak hanya datang lalu pergi. Mereka meninggalkan warisan pengetahuan yang bisa jadi bekal desa untuk lebih maju,” tegasnya.
Apalagi Desa Babakan sudah punya status Mandiri dengan skor IDM 0,958 pada 2024. Dengan program ini, desa makin punya peluang jadi pionir desa hijau di Pangandaran. Data akademis juga mendukung.
Nilai post-test peserta mencapai 95,52, jauh lebih tinggi dari pre-test 82,76. Artinya, pengetahuan warga naik 15,4 persen hanya dalam satu hari!
Workshop ini akhirnya ditutup dengan semangat warga, mahasiswa, pemerintah desa, dan Bank Sampah Induk Sahate berkomitmen menjadikan Babakan bebas sampah sekaligus mandiri secara ekonomi.
BSI Sahate sendiri bukan lembaga sembarangan. Berdiri sejak 2019 lewat program CSR PT Pegadaian dan diresmikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat kala itu, Ridwan Kamil, lembaga ini konsisten mengedukasi masyarakat untuk menjadikan sampah sebagai tabungan masa depan.
Dan kini, lewat tangan dingin mahasiswa KKN STITNU Al Farabi, sampah di Desa Babakan resmi naik kelas, dari biang masalah jadi sumber cuan!
Editor : Irfan Ramdiansyah
Artikel Terkait