Dulu Pakai Tali Rafia Ribuan Penonton, Kini Pacuan Kuda Porprov di Pangandaran Malah Sepi
Ia membandingkan dengan event sebelumnya. Biasanya, empat hari sebelum perlombaan, panitia sudah terlihat melakukan berbagai persiapan, mulai dari membersihkan arena, menata lokasi hingga menyebarkan informasi kepada masyarakat.
"Kalau mau ada balap kuda, biasanya empat hari sebelumnya panitia sudah melakukan persiapan. Kemudian penyebaran informasi juga dilakukan. Ini kan tidak ada, sehingga kesannya seperti tidak akan ada event balap kuda," ungkapnya.
Tak hanya promosi, jumlah pertandingan atau race juga menjadi sorotan. Dalam sehari, perlombaan hanya berlangsung sekitar empat race. Dengan total delapan race selama dua hari, durasi kegiatan dinilai terlalu singkat.
"Biasanya bisa sampai 10 race ke atas. Kalau sekarang hanya sekitar empat race sehari. Kegiatannya hanya sekitar tiga jam, tidak lama. Kalau sekarang hanya sampai sekitar pukul 11. Meskipun dilaksanakan dua hari, jumlah race-nya tetap sedikit," katanya.
Sepinya penonton ternyata bukan sekadar persoalan suasana arena. Dampaknya langsung dirasakan pedagang kecil yang berharap mendapat rezeki dari keramaian Porprov.
Iar, salah seorang pedagang di sekitar arena, mengaku penjualannya merosot tajam. Bahkan, bisa membawa pulang uang sekadar untuk menutup modal saja sudah disyukuri.
"Tapi sekarang sepi. Hanya bisa balik modal saja sudah Alhamdulillah. Kalau dulu sampai kewalahan melayani pembeli. Kemudian kegiatannya juga cuma sebentar, jadi penonton tidak puas," kata Iar.
Minimnya informasi mengenai penyelenggaraan pacuan kuda juga dirasakan langsung oleh pedagang tersebut.
Ia menceritakan, setelah azan Zuhur, seorang temannya datang membeli jajanan di lapaknya. Namun, temannya justru bertanya apakah sebelumnya ada kegiatan di arena pacuan kuda.
Ketika diberi tahu bahwa sedang berlangsung kejuaraan Porprov XV Jawa Barat 2026, temannya mengaku sama sekali tidak mengetahui informasi tersebut.
"Ya, tadi ada teman saya sambil jajan. Dia nanya, tadi habis ada apa? Saya jawab ada balap kuda. Jadi dia benar-benar tidak tahu," tuturnya.
Kondisi ini menjadi tamparan sekaligus bahan evaluasi bagi penyelenggaraan event olahraga di Kabupaten Pangandaran.
Sebab, suksesnya sebuah kejuaraan bukan hanya soal pertandingan terlaksana dan peserta berdatangan. Lebih dari itu, event olahraga semestinya mampu menghidupkan suasana, menarik masyarakat serta memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar.
Apalagi, Legokjawa selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki tradisi dan daya tarik pacuan kuda.
Bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM, ribuan penonton bukan sekadar keramaian. Mereka adalah harapan untuk mendapatkan tambahan penghasilan.
Kini, ketika arena pacuan kuda justru lengang, harapan mendulang rezeki dari gelaran Porprov pun ikut meredup.
Editor: Irfan Ramdiansyah