Kiai Luthfi Sentil Pemerintah Pangandaran: Jangan Minta Solusi ke Pengkritik!
PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Kritik pedas terhadap pemerintah daerah mewarnai forum Evaluasi dan Refleksi 14 Tahun Pangandaran yang digelar Komunitas Masyarakat Pangandaran Sauyunan (KOMPAS) di Sagati, Margacinta, Sabtu (31/10/2026).
Kali ini, sentilan datang dari Pimpinan Pondok Pesantren Riyadussalikin, KH Luthfi Fauzi. Ia secara blak-blakan menyoroti kebiasaan pemerintah yang kerap meminta solusi kepada masyarakat ketika menerima kritik.
Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu dituntut memberikan solusi. Sebab, merumuskan kebijakan dan mencari jalan keluar dari berbagai persoalan daerah merupakan tanggung jawab pemerintah.
Ia menegaskan, para pejabat memiliki kewenangan sekaligus mendapatkan gaji untuk memikirkan dan menyelesaikan persoalan masyarakat.
"Saya bukan akademisi, bukan juga orang pemerintahan. Tugas saya menyindir dan mempertanyakan, apakah kebijakan itu pantas atau tidak," demikian salah satu pokok kritik yang disampaikannya.
Tak hanya eksekutif, KH Luthfi juga menyoroti keberadaan dan kinerja anggota DPRD Pangandaran. Ia mempertanyakan apakah para wakil rakyat benar-benar telah menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya sebagaimana mestinya.
Dalam forum bertema Merajut Kebersamaan untuk Kemajuan Pangandaran tersebut, ia juga menekankan pentingnya strategi politik untuk mendorong perubahan daerah.
Ia mencontohkan strategi Nabi Muhammad SAW ketika melakukan hijrah, yang tidak hanya mengandalkan kekuatan individu, tetapi juga membangun aliansi dan kerja sama.
Karena itu, menurutnya, gerakan untuk memajukan Pangandaran perlu melibatkan partai politik sebagai kekuatan penggerak.
Perubahan tidak cukup hanya mengandalkan gerakan perorangan yang berjalan sendiri-sendiri.
Meski melontarkan kritik tajam, KH Luthfi mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terbawa emosi dalam menyikapi perbedaan pendapat.
Ia mengajak seluruh elemen untuk mengedepankan akal sehat, bukan sekadar perasaan. Sebab, persoalan daerah tidak akan selesai jika setiap perbedaan justru berujung pada kemarahan dan konflik emosional.
Menutup refleksinya, KH Luthfi menyerukan pentingnya saling memaafkan dan memohon ampunan melalui pesan Fa'fu anhum wastaghfir lahum.
Ia menegaskan, kemajuan Pangandaran membutuhkan kesediaan semua pihak untuk duduk bersama, bermusyawarah, dan menghidupkan kembali semangat gotong royong.
Sebab, membangun daerah bukan pekerjaan satu orang atau satu kelompok. Pemerintah, DPRD, partai politik, dan masyarakat harus berjalan bersama agar berbagai persoalan di Kabupaten Pangandaran tidak sekadar menjadi bahan kritik, tetapi benar-benar menemukan jalan penyelesaian.
Editor: Irfan Ramdiansyah