Air Mata Jeje Wiradinata Pecah, Sentil Pemkab Pangandaran: Rakyat Antre Air, Pejabat Malah Mau Pesta
PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Suasana Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Pangandaran mendadak emosional, Jumat (9/10/2026). Mantan Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata, tak kuasa menahan air mata saat menyoroti kondisi warga yang kesulitan mendapatkan air bersih di tengah rencana perayaan Hari Jadi ke-14 Kabupaten Pangandaran.
Di hadapan pimpinan dewan dan jajaran pejabat daerah, Jeje meluapkan kekecewaannya. Ia menilai, rencana menggelar berbagai kegiatan milangkala terasa ironis ketika masyarakat di sejumlah wilayah masih berjibaku menghadapi kekeringan akibat kemarau panjang.
Momen tersebut terjadi dalam rapat koordinasi tindak lanjut persiapan hari jadi sekaligus mitigasi dampak El Nino dan kemarau panjang.
Dengan suara bergetar, Jeje mempertanyakan kepekaan pemerintah daerah terhadap penderitaan masyarakat yang harus berjuang mendapatkan air bersih.
"Miris saya mendengarnya. Empati terhadap situasi tidak ada sama sekali," ujar Jeje sambil mengusap air matanya.
Ia bahkan menyayangkan rencana kegiatan hiburan di tengah kondisi warga yang disebutnya harus mengantre air bersih hingga dua minggu.
"Menangis saya. Rakyat sedang susah air, mengantre dua minggu, kok kita malah joget-joget? Rasa kepekaan pemimpin terhadap kondisi yang ada ke mana?" ucapnya.
Jeje meminta pemerintah daerah lebih memprioritaskan penanganan darurat kekeringan ketimbang sibuk mematangkan agenda seremonial.
Ia juga menyoroti belum adanya paparan peta mitigasi secara komprehensif dari BPBD mengenai wilayah terdampak krisis air bersih, termasuk potensi persoalan sanitasi dan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, pemerintah harus memiliki gambaran jelas mengenai daerah yang paling membutuhkan bantuan agar penanganan kekeringan tepat sasaran.
Tak hanya soal empati, Jeje juga mengingatkan potensi besarnya pengeluaran desa untuk mengikuti rangkaian lomba dan festival milangkala.
Ia memperkirakan, jika masing-masing dari 93 desa mengeluarkan Rp10 juta untuk kebutuhan kegiatan, seperti menyewa odong-odong dan membeli kostum, total pengeluaran bisa mendekati Rp1 miliar.
"Ada 93 desa. Kalau masing-masing harus ikut lomba, sewa odong-odong, beli kostum, katakanlah habis Rp10 juta per desa, itu sudah hampir Rp1 miliar uang keluar. Dari mana anggarannya? Itu uang rakyat," tegasnya.
Jeje mengingatkan agar kegiatan perayaan tidak sampai membebani pemerintah desa, terlebih jika sumber anggarannya tidak memiliki dasar yang jelas. Ia juga memperingatkan potensi persoalan hukum apabila terdapat pungutan atau pergeseran anggaran yang tidak sesuai ketentuan.
"Ingat, Anda berpotensi diperiksa oleh APH (aparat penegak hukum). Jangan sampai persoalan anggaran ini menyeret banyak pihak ke ranah hukum," ujarnya.
Di akhir penyampaiannya, Jeje mengingatkan bahwa peringatan hari jadi seharusnya menjadi momentum introspeksi, bukan sekadar perayaan.
Ia menegaskan, pemerintah harus peka terhadap jeritan masyarakat, terutama ketika warga sedang menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih.
"Kita ini bukan memimpin di hutan rimba. Ada rakyat, ada masyarakat yang jeritannya harus didengar. Jangan tunggu rakyat bergerak dengan caranya sendiri karena merasa aspirasinya dibungkam," tutur Jeje.
Pernyataan emosional mantan bupati tersebut menjadi sorotan dalam rapat yang membahas persiapan milangkala ke-14 sekaligus mitigasi dampak El Nino dan kemarau panjang di Kabupaten Pangandaran.
Di tengah rencana perayaan hari jadi, persoalan krisis air bersih kini menjadi pengingat bahwa kebutuhan mendasar masyarakat juga harus mendapat perhatian serius.
Editor: Irfan Ramdiansyah