get app
inews
Aa Text
Read Next : Rindu Sosok Jeje Wiradinata Menggema, Warga: Pemimpin Harus Berani Pasang Badan Demi Rakyat

Jeje: Omongan Saya Terbukti! Benur Mati Massal, DLH Jabar Ungkap Dugaan Pencemaran Laut Pangandaran

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:21 WIB
header img
Ketua HNSI Pangandaran Jeje Wiradinata menegaskan peringatan soal dampak tumpahan batu bara kini terbukti setelah benur dilaporkan mati massal. (Foto: iNewsPangandaran.id)

PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata, meluapkan kekecewaannya setelah kekhawatiran para nelayan terkait dampak tumpahan batu bara dari tongkang Nautica 22 di perairan Cibenda dinilai terbukti.

Jeje menegaskan, sejak awal HNSI telah meminta pemerintah menutup sementara aktivitas di kawasan terdampak. Namun usulan tersebut sempat dipertanyakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pangandaran karena dianggap tidak memiliki dasar yang kuat.

Kini, setelah muncul laporan kematian massal benur atau bibit lobster serta sejumlah biota laut di lokasi terdampak, Jeje menyebut fakta di lapangan menjadi bukti nyata.

"Saya kecewa benar sama Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan. Dua-tiga hari yang lalu mereka meng-counter pernyataan saya, mempertanyakan apa dasarnya penutupan sementara. Saya bilang dasarnya sudah ada, material yang tumpah itu mengandung B3 seperti arsenik, merkuri dan lainnya," tegas Jeje.



Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini telah membuktikan kekhawatiran para nelayan.

"Sekarang terbukti kan? Omongan saya itu terbukti setelah benar-benar banyak yang mati," katanya.

Dalam pertemuan yang difasilitasi Bupati Pangandaran, HNSI menyampaikan sejumlah tuntutan. Mulai dari penutupan sementara kawasan terdampak, pemberian ganti rugi kepada nelayan yang kehilangan penghasilan, hingga pendanaan pemulihan ekosistem laut.

Jeje juga mendesak perusahaan pemilik muatan agar lebih memprioritaskan pengangkatan batu bara yang tenggelam dibandingkan evakuasi tongkang.

"Bagi saya, pengangkatan kapal tongkang itu tidak penting, itu urusan nomor sepuluh. Yang paling utama adalah pengangkatan material batu bara di dasar laut karena itu yang meracuni lingkungan," ujarnya.



Di sisi lain, hasil kajian sementara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat semakin memperkuat dugaan terjadinya pencemaran laut akibat tumpahan batu bara tersebut.

Kepala DLH Provinsi Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsih, menjelaskan ombak besar telah menghancurkan batu bara menjadi partikel halus yang mengubah kondisi fisik dan kimia air laut.

"Warna air laut cenderung menghitam dan tingkat kekeruhannya meningkat," katanya.

Hasil uji laboratorium menunjukkan partikel batu bara menghambat masuknya cahaya matahari ke dasar laut sehingga kadar oksigen terlarut (DO) turun drastis di bawah ambang normal.

Kondisi itu dinilai dapat mengganggu kehidupan biota laut, menurunkan hasil tangkapan nelayan, hingga mengancam tingkat kelangsungan hidup benur lobster di tambak maupun hatchery yang menggunakan air laut.

DLH Jabar juga menemukan indikasi akumulasi logam berat di sedimen dasar laut, seperti arsenik, kromium, nikel, timbal, kadmium, dan merkuri.

"Hal ini menunjukkan bahwa batubara mengendap di dasar laut dalam jumlah yang cukup besar. Kami menyimpulkan telah terjadi dugaan pencemaran air laut oleh tumpahan batu bara," tegas Ai Saadiyah.

Saat ini, DLH Jawa Barat bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan tim ahli masih melakukan analisis lanjutan untuk memetakan sebaran polutan serta dampaknya terhadap ekosistem perairan Pangandaran.

Editor : Irfan Ramdiansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut