Celengan Nelayan Pecah Jelang Lebaran, Ratusan Nelayan Pangandaran Bawa Pulang Jutaan Rupiah
Besaran uang yang diterima setiap nelayan pun berbeda-beda. Semua tergantung pada seberapa aktif mereka melakukan transaksi penjualan ikan melalui koperasi selama satu tahun terakhir.
“Ada yang mendapatkan Rp2 juta, Rp3 juta, bahkan lebih. Dana ini sangat membantu, apalagi sebelumnya pada awal Ramadan mereka juga sudah menerima pembagian serupa,” jelasnya.
Menurut Jeje, keberadaan KUD Minasari bukan sekadar tempat menabung bagi para nelayan. Koperasi ini juga menjadi benteng ekonomi bagi anggotanya, terutama ketika harga komoditas laut mengalami fluktuasi.
Ia mencontohkan, harga beberapa jenis ikan seperti ikan kuer sempat melonjak drastis dari sekitar Rp4.000 menjadi hampir Rp14.000 akibat kelangkaan pasokan menjelang Lebaran. Kondisi seperti ini seringkali membuat ekonomi nelayan tidak stabil.
Namun melalui sistem koperasi, perputaran dana dan pengelolaan keuangan bisa dilakukan secara lebih sehat dan terarah.
Tak hanya itu, dana yang dikelola oleh KUD Minasari juga dialokasikan untuk program jaminan sosial bagi para anggota.
“Meskipun simpanannya mungkin hanya Rp100 ribu, jika anggota meninggal dunia ada santunan hingga Rp10 juta. Kalau anaknya melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, ada bantuan beasiswa Rp5 juta. Inilah kekuatan dana yang kita kelola bersama secara sehat tanpa utang,” ungkap Jeje.
Pria yang telah memimpin KUD Minasari selama 14 tahun itu berharap sistem pengelolaan ekonomi kerakyatan seperti ini bisa menjadi contoh bagi koperasi lain di berbagai daerah.
Menurutnya, koperasi harus mampu menjadi benteng pertahanan ekonomi masyarakat kecil, terutama bagi nelayan yang memiliki risiko pekerjaan cukup tinggi.
“Koperasi harus menjadi benteng ekonomi bagi masyarakat kecil, khususnya nelayan yang setiap hari menghadapi risiko saat melaut,” tegasnya.
Di sisi lain, para nelayan mengaku sangat terbantu dengan adanya program tabungan cengcelengan ini. Salah satunya diungkapkan oleh Sunarsih, warga nelayan asal Desa Pangandaran.
Ia mengatakan, dalam setahun terakhir pendapatan dari hasil melaut memang menurun drastis. Para nelayan bahkan menyebut kondisi ini sebagai masa “paila” atau paceklik dalam istilah Sunda.
Karena itu, tabungan yang dibagikan menjelang Lebaran menjadi penyelamat ekonomi bagi keluarganya.
“Alhamdulillah sangat bermanfaat. Tahun ini hasil ikan lagi sedikit, istilahnya paila atau paceklik. Jadi dapat tabungan ini sangat membantu sekali,” ujar Sunarsih.
Selain menerima uang tunai, Sunarsih dan nelayan lainnya juga membawa pulang paket bingkisan Lebaran dari KUD Minasari.
Isi paket tersebut cukup lengkap, mulai dari biskuit kaleng, sirup, kopi, susu hingga gula pasir yang sangat dibutuhkan untuk menyambut Hari Raya.
“Isinya ada biskuit kaleng, sirup, kopi, susu, dan gula. Ini sangat berarti buat kebutuhan Lebaran nanti,” katanya.
Usai menerima uang tabungan dan paket bingkisan, para nelayan tampak sumringah. Mereka membawa pulang hasil tabungan setahun itu dengan wajah penuh rasa syukur.
Di tengah kerasnya kehidupan nelayan dan musim paceklik yang masih melanda, celengan tanah liat yang dipecahkan hari itu seolah menjadi simbol harapan bahwa dari kebiasaan menabung kecil-kecilan, lahir kekuatan ekonomi yang mampu menyelamatkan banyak keluarga nelayan menjelang Lebaran.
Editor : Irfan Ramdiansyah