Masjid Agung Al-Istiqomah Pangandaran Jadi Magnet Ibadah dan Sejarah Wakaf Keluarga Susi
Secara tampilan, Al-Istiqomah memancarkan aura modern namun tetap teduh. Fasad depan didominasi batu abu-abu dengan panel hitam mengilap. Tulisan nama masjid terpampang jelas di bagian atas pintu utama. Jalur masuk tertata rapi, taman kecil menghiasi sisi kanan dan kiri, menciptakan suasana nyaman bagi jamaah.
Menara tunggal yang menjulang tinggi menjadi penanda visual dari kejauhan. Dari sanalah lantunan azan berkumandang setiap waktu salat. Saat Ramadan, gema tadarus Al-Qur’an terdengar hingga ke halaman, menciptakan suasana religius yang kontras dengan hiruk pikuk wisata.
Menjelang waktu berbuka, pelataran masjid mulai dipadati. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula wisatawan yang masih mengenakan pakaian pantai, langsung bergegas mengambil air wudu. Ramadan seolah menyatukan warga lokal dan pendatang dalam satu saf yang sama.
Tak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan sosial. Santunan anak yatim, pembagian takjil, hingga kajian keagamaan rutin digelar sepanjang bulan suci. Warga Pananjung menyebut, Ramadan di Al-Istiqomah selalu terasa lebih hidup.
Di tengah geliat ekonomi wisata yang terus berkembang, Masjid Agung Al-Istiqomah berdiri sebagai penyeimbang. Ia mengingatkan bahwa Pangandaran bukan hanya tentang ombak dan hotel, tetapi juga tentang nilai keimanan yang mengakar kuat.
Empat dekade lebih telah berlalu sejak awal pembangunannya. Kini, setiap Ramadan tiba, masjid ini kembali menjadi saksi ribuan doa yang dipanjatkan. Di bawah kubahnya, harapan dan air mata bertemu dalam sujud panjang.
Ramadan di jantung wisata Pangandaran bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah perayaan iman. Dan di sanalah, Masjid Agung Al-Istiqomah terus istiqomah, menjaga cahaya spiritual tetap menyala di pesisir selatan.
Editor : Irfan Ramdiansyah