Dilema Kanker Stadium 4A, Antara Kekhwatiran pada Kemoterapi dan Harapan Sembuh Eti Kuswati
“Kadang saya merasa tidak enak sama anak-anak. Biayanya besar sekali. Tapi saya juga ingin sembuh,” tutur Eti dengan nada haru.
Kanker stadium 4A sendiri merupakan kondisi lanjut, di mana sel ganas telah berkembang secara signifikan dan memerlukan penanganan serius.
Secara medis, kemoterapi kerap direkomendasikan untuk membantu memperlambat perkembangan sel kanker serta mengurangi gejala. Namun dalam praktiknya, pilihan terapi tetap kembali pada keputusan pasien dan keluarga setelah mempertimbangkan berbagai aspek.
Dalam hari-harinya kini, Eti lebih banyak beristirahat di rumah. Aktivitas yang dulu biasa ia lakukan, kini hanya bisa ia kenang. Rasa nyeri yang datang silih berganti menjadi bagian dari keseharian yang harus ia hadapi dengan tabah.
“Sakitnya kadang tidak tertahankan. Tapi saya berdoa terus. Mudah-mudahan ada jalan,” katanya.
Harapan Eti sederhana. Ia ingin diberi kesempatan untuk pulih, atau setidaknya kondisi tubuhnya tidak semakin memburuk. Ia juga berharap ada perhatian dan dukungan dari berbagai pihak agar perjuangannya tidak terasa sendirian.
“Saya hanya minta doa. Kalau ada yang mau membantu, saya sangat berterima kasih. Semoga Allah membalas kebaikannya,” ucapnya penuh harap.
Kisah Eti Kuswati menjadi potret getir perjuangan seorang perempuan melawan penyakit mematikan di tengah keterbatasan. Di antara pilihan medis dan keyakinan pada jalur alternatif, ia tetap menggenggam harapan.
Perjuangan itu belum usai. Di sudut rumah sederhananya di Cikembulan, Eti masih bertahan, menata harapan, dan berikhtiar dengan cara yang ia yakini. “Selama saya masih diberi napas, saya akan terus berusaha,” tutupnya.
Editor : Irfan Ramdiansyah