Tips Puasa Ala KH Luthfi Fauzi, Pimpinan Ponpes Riyadussalikin: Jangan Cuma Tahan Lapar
“Puasa itu sekolah pengendalian diri. Kalau setelah Ramadan kita masih sama, berarti ada yang salah dengan puasanya,” tegasnya.
KH Luthfi Fauzi juga mengingatkan agar umat tak menjadikan Ramadan sebagai ajang pencitraan. Menurutnya, ibadah yang terlalu sibuk dipamerkan justru bisa mengurangi nilai keikhlasan.
“Yang dinilai Allah itu hati, bukan unggahan,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi refleksi di tengah maraknya budaya berbagi aktivitas ibadah di media sosial.
Bagi KH Luthfi Fauzi, puasa adalah momentum membersihkan diri. Bukan hanya menahan lapar dari terbit fajar hingga magrib, tetapi menahan ego, amarah, dan keinginan yang berlebihan.
“Kalau puasa kita benar, hati jadi lebih lembut. Kalau hati lembut, hidup jadi lebih tenang,” tuturnya.
Nasihat dari pimpinan Ponpes Riyadussalikin itu menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah kesempatan emas memperbaiki diri.
Karena sejatinya, puasa bukan hanya tentang menunggu azan magrib, melainkan tentang bagaimana kita keluar dari Ramadan dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya.
Editor : Irfan Ramdiansyah