Munggahan di Bendungan Matras, Warga Padati Wisata Murah Meriah Warisan Belanda
PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan dan Lebaran 2026, ratusan warga tumpah ruah menggelar tradisi munggahan di kawasan Bendungan Matras, Dusun Cikulu, Desa Sukahurip, Kecamatan Pangandaran. Suasana yang biasanya tenang mendadak ramai dipenuhi keluarga yang membawa tikar, rantang, hingga termos nasi.
Tradisi munggahan yang identik dengan makan bersama sebelum memasuki bulan puasa itu kali ini dipusatkan di Bendungan Matras. Lokasi yang dulunya hanya dikenal sebagai bendungan irigasi peninggalan zaman kolonial, kini berubah wajah menjadi destinasi wisata dadakan yang viral di media sosial.
Bendungan Matras sendiri merupakan bangunan warisan pemerintah kolonial Belanda yang dibangun sekitar tahun 1918. Dahulu, fungsi utamanya adalah sebagai dam irigasi untuk mengatur aliran air dari Sungai Putrapinggan guna mengairi lahan pertanian di Desa Sukahurip, Desa Purbahayu, dan wilayah sekitarnya.
Nama “Matras” sudah dikenal turun-temurun oleh warga setempat sejak masa penjajahan.
Pantauan di lokasi, anak-anak terlihat asyik berenang di aliran air yang relatif dangkal. Sementara para orang tua duduk bersantai di tepi bendungan, menggelar tikar dan menyantap hidangan khas munggahan seperti nasi liwet, ayam goreng, sambal, hingga lalapan segar.
Tak sedikit pula yang memanfaatkan momen ini untuk berfoto ria. Deretan batu bendungan, aliran air yang jernih, serta pepohonan rindang menjadi latar alami yang estetik dan instagramable.
Avip Alamsyah, salah seorang warga yang ikut munggahan di lokasi tersebut, mengaku sengaja memilih Bendungan Matras karena suasananya yang alami dan biaya yang terjangkau.
“Di sini enak, adem, murah juga. Anak-anak bisa main air, orang tua bisa kumpul bareng. Daripada jauh-jauh, mending di sini saja,” ujarnya.
Menurutnya, munggahan di Bendungan Matras menjadi alternatif wisata keluarga yang tidak menguras kantong menjelang Ramadan. Terlebih, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membuat masyarakat lebih selektif memilih tempat rekreasi.
Selain faktor biaya, unsur sejarah yang melekat pada bendungan ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Bangunan tua dengan konstruksi kokoh itu masih berdiri tegak meski usianya telah lebih dari satu abad.
Layaknya tempat bersejarah lain di Indonesia, Bendungan Matras juga menyimpan cerita legenda yang hingga kini masih sesekali dibahas warga sepuh. Konon, dahulu sungai tersebut dihuni makhluk gaib berupa Buaya Putih atau Buaya Buntung. Cerita itu diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Namun seiring berkembangnya zaman dan semakin ramainya aktivitas manusia di sekitar bendungan, mitos tersebut perlahan memudar. Kini, kawasan ini sepenuhnya menjadi ruang publik yang aman dan nyaman untuk rekreasi keluarga.
Dalam beberapa bulan terakhir, Bendungan Matras mulai viral di berbagai platform media sosial. Banyak konten kreator lokal mengunggah video keseruan berenang, body rafting ringan menggunakan ban, hingga momen santai menikmati sore di tepian bendungan.
Melihat potensi tersebut, warga setempat bersama Karang Taruna berinisiatif mengelola kawasan secara swadaya. Mereka menyediakan fasilitas sederhana seperti penyewaan ban untuk berenang serta tikar untuk duduk santai.
Tarifnya pun relatif ramah di kantong. Cukup dengan membayar sewa ban dan alas duduk, pengunjung sudah bisa menikmati suasana alam tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.
Meski begitu, sejumlah warga berharap pemerintah daerah ikut turun tangan melakukan penataan lebih lanjut. Mulai dari akses jalan, area parkir, hingga fasilitas kebersihan agar Bendungan Matras semakin tertata dan aman.
Apalagi, menjelang Ramadan dan Lebaran, lonjakan pengunjung diprediksi terus meningkat. Jika tidak dikelola dengan baik, dikhawatirkan akan muncul persoalan seperti sampah menumpuk atau potensi kecelakaan di area air.
Di sisi lain, geliat wisata Bendungan Matras menjadi angin segar bagi perekonomian warga sekitar. Pedagang dadakan mulai bermunculan menjajakan jajanan ringan, minuman dingin, hingga makanan berat.
Tradisi munggahan yang biasanya dilakukan di rumah atau rumah makan, kini menemukan nuansa baru di ruang terbuka yang sarat sejarah.
Warga bukan hanya sekadar makan bersama, tetapi juga merawat kebersamaan dan mengenang jejak masa lalu yang tersimpan di balik kokohnya bendungan tua itu.
Menjelang azan magrib berkumandang, satu per satu keluarga mulai berkemas. Tawa anak-anak yang sejak siang bermain air perlahan mereda. Bendungan Matras kembali menunjukkan wajah aslinya sebagai bangunan tua yang berdiri di antara aliran Sungai Putrapinggan.
Namun hari itu, ia bukan sekadar bendungan. Ia menjadi saksi kebersamaan, tradisi, dan geliat wisata rakyat yang tumbuh dari bawah, sederhana, meriah, dan penuh makna menjelang bulan suci.
Editor : Irfan Ramdiansyah