Potret Kehidupan Pilu Lansia di Pelosok Desa, Cari Rp100.000 Butuh 10 Hari Kerja Keras
PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Di tengah laju pembangunan dan modernisasi yang terus digembar-gemborkan pada 2026, kenyataan pahit masih menghantui sudut-sudut desa di Pangandaran. Potret getir kehidupan pasangan lanjut usia ini menjadi gambaran nyata bahwa kesejahteraan belum sepenuhnya merata hingga ke pelosok.
Kisah pilu tersebut datang dari Desa Masawah, wilayah terpencil di Kecamatan Cimerak. Di sana, sepasang suami istri renta harus memeras tenaga hingga berhari-hari hanya demi mengumpulkan uang Rp100.000 untuk bertahan hidup.
Pasangan itu adalah Uuk Rukaenah (65) dan suaminya Saedin (70). Di usia senja yang seharusnya menjadi masa istirahat, keduanya justru masih berjibaku dengan pekerjaan kasar. Mereka tinggal berdua di rumah sederhana setelah anak-anaknya berumah tangga dan menjalani kehidupan masing-masing.
Setiap hari, sebelum matahari meninggi, Uuk dan Saedin sudah bersiap memulai aktivitas. Jika ada panggilan membantu di sawah milik warga, mereka berangkat bersama. Namun bila tak ada pekerjaan, keduanya menyusuri kebun-kebun orang lain untuk mencari daun kelapa yang nantinya diolah menjadi sapu lidi.
Dengan tangan yang mulai gemetar dimakan usia, pasangan lansia itu meraut daun kelapa, menjemur, lalu mengikatnya menjadi sapu lidi. Setiap ikat hanya dihargai sekitar Rp1.800. Dari pekerjaan itulah mereka menggantungkan harapan untuk bisa makan setiap hari.
“Sehari-hari kalau tidak ke sawah, kami bersama suami mencari daun kelapa ke kebun orang lain untuk dijadikan sapu lidi,” tutur Uuk lirih saat ditemui, Jumat 12 Februari 2026.
Dalam kondisi tubuh yang masih kuat, mereka mampu membuat sekitar 9 hingga 10 ikat per hari. Namun ketika badan terasa lelah atau sakit, jumlah produksi langsung menurun drastis. Otomatis, penghasilan yang didapat pun ikut menyusut.
“Kalau lagi kurang sehat, kadang bisa kurang dari biasanya. Mencari uang Rp100.000 itu sangat susah,” ungkapnya.
Mirisnya, untuk mengumpulkan uang Rp100 ribu saja, pasangan lansia tersebut harus bekerja sekitar 10 hari, bahkan lebih lama jika kondisi kesehatan menurun. Uang itu bukan untuk kemewahan, melainkan hanya untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras, garam, dan bumbu dapur.
Harga kebutuhan sehari-hari yang terus merangkak naik semakin menambah beban hidup mereka. Uuk mengaku terpaksa membeli bahan makanan paling murah agar dapur tetap bisa mengepul.
“Saat ini harga kebutuhan mahal, seperti bumbu untuk masak. Kami beli garam pun yang murah saja,” katanya.
Kehidupan pasangan lansia itu jauh dari kata layak. Rumah sederhana, penghasilan tak menentu, serta kondisi fisik yang semakin renta menjadi tantangan yang harus mereka hadapi setiap hari. Meski demikian, semangat hidup tak pernah padam dari wajah mereka.
Alih-alih mengeluh, Uuk dan Saedin memilih tetap bekerja keras. Bagi mereka, mengeluh hanya akan memperberat beban. Harapan sederhana terus mereka genggam, yakni bisa makan setiap hari dan hidup dengan tenang.
“Mengeluh itu tidak. Karena kalau ngeluh malah tambah kami tidak bisa makan. Kami terpaksa dan tetap semangat menjalani aktivitas seperti hari ini. Harapannya semoga harga lidi bisa naik,” ujarnya penuh harap.
Kisah Uuk dan Saedin menjadi potret nyata kehidupan masyarakat kecil yang masih berjibaku dengan kemiskinan di tengah derasnya arus modernisasi. Di balik pembangunan yang terus digaungkan, masih ada warga yang berjuang dari pagi hingga petang hanya demi sekadar bertahan hidup.
Potret kehidupan mereka seolah menjadi pengingat bahwa kesejahteraan belum sepenuhnya merata. Di balik gemerlap pembangunan, masih ada cerita sunyi tentang perjuangan, ketabahan, dan harapan sederhana agar hari esok bisa sedikit lebih baik dari hari ini.
Editor : Irfan Ramdiansyah