Sambut Ramadhan 2026, Kyai Haji Luthfi Fauzi dari Ponpes Riyadussalikin Ajak Umat Bersihkan Hati
PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Ramadhan bukan sekadar ritual, tapi momentum membenahi iman dan akhlak.Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah atau Ramadhan 2026, denyut religius mulai terasa kuat di tengah masyarakat. Masjid dan pesantren kembali menggeliat, majelis ilmu hidup, dan umat Islam bersiap menata diri menyambut bulan penuh ampunan dan keberkahan.
Di tengah suasana tersebut, Kyai Haji Luthfi Fauzi, pengasuh Pondok Pesantren Riyadussalikin, menyampaikan pesan penting kepada umat Islam agar Ramadhan tidak dijalani sekadar sebagai rutinitas tahunan, melainkan ruang pertaubatan dan pembenahan batin.
“Ramadhan itu madrasah kehidupan. Kalau hanya menahan lapar dan haus, tapi hati tetap kotor, maka yang didapat hanya letih,” ujar Kyai Haji Luthfi Fauzi dalam keterangannya, Rabu (21/01/2026).
Menurut Kyai Haji Luthfi Fauzi, Ramadhan sejatinya hadir untuk meluruskan kembali arah hidup manusia dari yang semula sibuk mengejar dunia, menjadi lebih sadar akan nilai akhirat dan kemanusiaan.
“Puasa itu bukan hanya ibadah fisik. Ia mengajarkan kesabaran, kejujuran, dan kepekaan sosial. Kalau Ramadhan tidak mengubah sikap kita kepada sesama, maka puasanya perlu dipertanyakan,” tuturnya.
Ia menyoroti kondisi sosial hari ini yang mudah panas, mudah tersulut emosi, bahkan saling melukai melalui kata-kata. Ramadhan, kata dia, harus menjadi rem darurat bagi hawa nafsu, termasuk di ruang digital.
Di lingkungan Pondok Pesantren Riyadussalikin, persiapan menyambut Ramadhan 2026 dilakukan dengan memperkuat kegiatan keagamaan, pengajian kitab, serta pembiasaan ibadah berjamaah. Para santri didorong untuk tidak hanya memperbanyak amalan pribadi, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial.
“Santri harus hadir sebagai penyejuk. Ramadhan adalah panggung akhlak, bukan ajang pamer ibadah,” tegas Kyai Haji Luthfi Fauzi.
Ia berharap santri dan alumni Ponpes Riyadussalikin dapat menjadi contoh Islam yang ramah, rendah hati, dan membumi di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, Kyai Haji Luthfi Fauzi mengingatkan pentingnya menata niat sejak jauh hari. Menurutnya, kesiapan batin jauh lebih menentukan kualitas Ramadhan dibandingkan persiapan seremonial semata.
“Kalau niat sudah lurus, ibadah akan terasa ringan. Tapi kalau niat masih bercampur dengan riya dan ingin dipuji, Ramadhan bisa berlalu tanpa bekas,” ujarnya.
Ia juga mengajak umat untuk saling memaafkan, memperbaiki hubungan keluarga, dan membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci.
Menutup pesannya, Kyai Haji Luthfi Fauzi berharap Ramadhan 2026 menjadi titik balik akhlak dan kesadaran spiritual umat Islam, khususnya generasi muda.
“Ramadhan itu singkat. Tapi dampaknya harus panjang. Kalau setelah Ramadhan kita masih mudah marah dan sulit jujur, berarti ada yang keliru dalam ibadah kita,” pungkasnya.
Ramadhan segera datang. Pertanyaannya bukan lagi soal siap atau tidak secara lahiriah, tetapi sejauh mana hati benar-benar siap menerima cahaya perubahan.
Editor : Irfan Ramdiansyah