Cerita Nanang Kartu dan Pindang Gunung: Rasa Masa Kecil yang Tak Pernah Pergi dari Pangandaran
PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Setiap kali uap panas Pindang Gunung mengepul dari mangkuk, ingatan Nanang Sanudin yang akrab disapa Nanang Kartu, selalu kembali ke masa kecilnya. Ke dapur sederhana, ke cerita orang-orang tua, ke Pangandaran yang dulu masih sepi dan dikelilingi hutan.
“Dari kecil saya sudah kenal Pindang Gunung,” kata Nanang pelan.
Bukan dari buku resep, melainkan dari cerita yang ia dengar berulang kali di rumah dan di lingkungan kampungnya. Cerita tentang ikan laut yang dibawa naik ke gunung, dimasak oleh orang-orang gunung, lalu kembali turun ke pesisir untuk dimakan bersama.
Waktu itu, Pangandaran belum seperti sekarang. Belum ramai wisatawan, belum dipenuhi kafe dan restoran. Nanang kecil tumbuh di lingkungan yang masih akrab dengan alam. Ia ingat betul bagaimana orang-orang tua bercerita bahwa dulu Pangandaran adalah hutan. Laut dan gunung terasa begitu dekat, seolah tak punya batas.
Pindang Gunung, bagi Nanang, adalah bagian dari cerita itu. Masakan sederhana yang lahir dari keterbatasan. Bumbunya tidak rumit, cabai rawit, kunyit, bawang merah, terasi, garam. Rasa asamnya berasal dari honje, atau daun kedondong jika honje tak ada. Tidak ada takaran pasti. Semua mengandalkan rasa dan kebiasaan.
Editor : Irfan Ramdiansyah